Islamophobia Terus Bergema dan Membayangi Muslim, Apa yang Dilakukan Dunia?


MutiaraUmat.com -- Genosida Israel Meningkatkan Islamophobia

Hari ini tepat pada Rabu, 28 Februari 2024 adalah hari ke 146 agresi militer Israel atau hari ke 146 Palestina di genosida. Jumlah korban jiwa bahkan tembus dan lebih dari 29.000-an jiwa, dan lebih dari 69.000-an orang terluka yang korbannya kebanyakan anak-anak dan perempuan. Berbagai kecaman ditunjukkan oleh para pemimpin dunia, namun nyatanya tetap tidak bisa menghentikan kejahatan yang dilakukan zionis kepada saudara Muslim kita di Palestina. Hingga hari ini saudara Muslim kita masih dibantai bahkan banyak dari bantuan yang kita kirimkan masih terhenti di truk-truk yang berbaris menunggu izin untuk masuk dari zionis hingga menyebabkan saudara Muslim kita kelaparan bahkan sampai menyebarnya penyakit kulit di kalangan pengungsi karena sulitnya akses kehidupan yang sehat dan layak.

Bagaimana tidak, karena seluruh fasilitas telah dihancurkan oleh zionis israel. Mulai dari fasilitas elektronik, pendidikan, bahkan sampai fasilitas kesehatan yang menurut aturan internasional dilarang untuk diserang oleh kelompok zionis ini pun tidak luput dari kebengisan dan kejahatan mereka. Warga sipil, termasuk anak-anak, perempuan, sampai lansia pun mereka serang tanpa pandang bulu. Bahkan data dari tribunnews, disebutkan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyerbu Rumah Sakit Nasser dan akibat dari serangan itupun evakuasi yang dilakukan tidak bisa dilakukan secara maksimal sehingga laporan dari para pejabat Palestina bahwa mayat-mayat di dalam rumah sakit sampai membusuk.

Namun di antara hal miris dan menyayat hati melihat kondisi saudara Muslim di Palestina, ada fenomena lain yang tak kalah mengiris hati di belahan dunia lain. Mengutip dari viva.co.id dikatakan bahwa dari pecahnya konflik di Palestina yang melibatkan sipil Palestina, kelompok perjuangan Hamas dan zionis Israel, justru terjadi peningkatan islamophobia di Inggris yang dilaporkan oleh kelompok pemantau Tell MAMA, pihaknya mengatakan bahwa tercatat sekitar 2.010 kasus terkait islamophobia yang terjadi dalam waktu empat bulan yang dikatakan bahwa bahwa akibat dari serangan Hamas pada 07 Oktober 2023. (Dikutip dari viva.co.id, diakses pada 28 Februari 2024).


Islamophobia

Islamophobia adalah sikap atau perilaku yang menunjukkan ketidaksetujuan dan kebencian terhadap kepercayaan atau agama islam dan penganutnya yaitu umat Muslim. Sikap atau perilaku atas ketidaksetujuan dan kebencian ini ditunjukkan dengan bentuk diskriminasi, pelecehan, bahkan sampai serangan verbal dan fisik terhadap individu atau kelompok Muslim.

Fenomena islamophobia di dunia ini bukanlah hal baru, sikap ketidaksetujuan dan kebencian terhadap Islam dan penganutnya sudah ada sejak zaman Rasulullah, khususnya pada periode dakwah di Makkah. Pada masa itu kaum Muslim banyak sekali menerima siksaan dari orang-orang Makkah yang membenci mereka karena mengambil Islam sebagai akidah mereka. Para pembesar Quraisy di antaranya adalah Abu Lahab dan Abu Jahal merupakan orang yang sangat masif melakukan penganiayaan dan bahkan membangun propaganda-propaganda agar masyarakat Makkah saat itu menolak kehadiran Islam dan para pengikutnya. Meskipun Rasulullah adalah keponakan dari Abu Lahab sendiri, namun hal itu bukan menjadi penghalang untuk Abu Lahab terus melakukan siksaan kepada para pengikut Islam.

Salah satu sahabat nabi yang mendapat siksaan adalah Bilal bin Rabbah, yang kala itu merupakan budak dari tokoh kafir Quraisy Umayyah bin Khalifah al-Jumahi. Ketika tau bahwa Bilal berislam, majikannya langsung menyiksanya dengan berbagai siksaan, di antaranya adalah dengan menjemurnya dibawah terik matahari dan meletakkan batu besar di atas dadanya dengan memaksa untuk meninggalkan Islam. Namun Bilal tetap teguh dengan Islam sebagai agamanya dengan mengatakan “Ahad, Ahad”. Mereka terus menyiksanya hingga akhirnya Bilal dibebaskan (dibeli) oleh Abu Bakar.

Bahkan Rasulullah pun tidak luput dari siksaan, penganiayaan, penghinaan, bahkan sampai ancaman dan percobaan pembunuhan. Semuanya telah beliau rasakan, semua itu adalah upaya orang-orang kafir untuk menunjukkan kebenciannya pada Islam dan ingin menghentikan eksistensi Islam yang kala itu terus menyebar. Bahkan hari ini bentuk kebencian yang kita sebut dengan “islamophobia” itu masih terus berlanjut sejak wafatnya Rasulullah pada 12 Rabiul Awal 632 Masehi sampai hari ini. Bukti nyatanya adalah pembantain yang diderita saudara-saudara Muslim kita di Palestina, yang saat ini sangat jelas didepan mata bagaimana musuh-musuh Islam ingin menghancurkan dan menghapuskan eksistensi Islam di negeri Syam.


Fenomena Islamophobia di Berbagai Belahan Dunia

Namun nyatanya, fenomena islamophobia tidak hanya terjadi di negeri-negeri Timur Tengah yang notabenenya adalah mayoritas Muslim. Di negeri-negeri lain yang Islam adalah minoritas sudah tentu islamophobia akan terjadi di kondisi seperti hari ini. Contohnya yang sedang terjadi adalah di London, Inggris yang kasus islamophobia semakin meningkat sejak agresi militer zionis israel. Tell MAMA menyebutkan terjadi 2.010 kasus, dengan rincian 1.109 kasus secara online dan 901 kasus secara offline. Tindakan itu berupa kekerasan, ancaman, serangan, vandalisme/perusakan properti, ujaran kebencian, dan diskriminasi yang ditujukan kepada Muslim terutama yang melakukan pembelaan terhadap Palestina. (Dikutip dari khazanah.republika.co.id, diakses pada 29 Februari 2024).

Di negara lain islamophobia juga terjadi di Swedia. Pada Rabu, 21 Februari 2024 sebuah masjid di ibu kota Swedia, Stockholm menjadi sasaran kejahatan, terdapat grafiti di dinding masjid dengan tanda Swastika (simbol yang disucikan Hindu) dan adanya pesan ancaman “bunuh muslim’. Ini bukanlah kali pertama Masjid Stockholm menjadi sasaran kejahatan rasial. Pada 21 Februari kejahatan yang terjadi adalah kedua kalinya yang terjadi. Karena sebelumnya pada 20 Februari 2024, ada pelaku yang juga mencoret-coret dengan tanda Swastika dan pesan ancaman “pulanglah” yang ditulis di pintu. (Dikutip dari viva.co.id, diakses pada 29 Februari 2024).

Di Amerika menurut laporan dari Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) mengatakan bahwa pihaknya menerima 774 laporan mengenai insiden yang dimotivasi oleh islamophobia dan adanya bias terhadap Palestina dan Arab. Jumlah laporan ini meningkat tinga kali lipat atau sebesar 338% dari jumlah rata-rata pada tahun 2022. CAIR mengatakan remaja Palestina berusia 18 tahun diduga diserang, adanya ancaman pembunuhan di masjid, penikaman terhadap anak Muslim berusia 6 tahun di lllinois yang dilatarbelakangi karena anak Muslim tersebut merupakan Palestina. (Dikutip dari cnbcindonesia.com, diakses pada 29 Februari 2024).

Dan masih banyak lagi kasus-kasus islamophobia yang terjadi di belahan-belahan negara lain sebelum tanggal 7 Oktober 2023 yang saat ini dijadikan alasan munculnya berbagai kejadian islamophobia di beberapa negara. Misalnya saja diskriminasi terhadap muslim di India yang bahkan melarang siswanya untuk menggunakan hijab saat bersekolah, bahkan di Eropa kasus-kasus islamophobia sejatinya bukanlah hal baru yang terjadi. Kasus-kasus penistaan agama, penghinaan Rasul, dan penistaan Al-Qur’an sejatinya telah banyak terjadi yang dilakukan oleh orang-orang yang menggemborkan toleransi namun sangat intoleran dengan Islam dan penganutnya. Bahkan yang terdekat di negeri kita sendiri Indonesia kasus-kasus islamophobia pun pernah terjadi. Sungguh hal yang sangat miris mengingat bahwa Indonesia merupakan salah satu negeri dengan Muslim sebagai mayoritas.


Islam Agama yang Damai

Islam adalah agama yang menanamkan nilai-nilai perdamaian di dalam ajarannya. Islam mengajarkan penganutnya untuk saling berkasih sayang kepada sesamanya, serta toleransi dan menghormati kepada orang lain yang berbeda keyakinan dengannya. Bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kedamaian dan toleransi dapat kita lihat dengan membaca sejarah saat tegaknya Islam di Madinah pada masa kepemimpinan Rasulullah dan pada masa kepemimpinan sahabat beliau yaitu masa Khulafaurrasyidin serta pada masa kekhalifahan setelahnya, Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah. Yang mana saat itu Islam dijadikan sebagai landasan negara dalam bentuk negara Islam yang menerapkan Islam secara kaffah yang dapat kita sebut sebagai khilafah dengan pemimpinnya disebuah khalifah. Negara yang rakyatnya bukan hanya Muslim tapi juga agama-agama lain yang hidup dibawah kekuasaan khilafah dapat hidup dengan damai dan sejahtera. Karena Allah sendiri yang memerintahkan untuk berakhlak dan toleransi, sebagaimana Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (Al-Hujurat: 13).

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar), kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu. Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisa: 29).

Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).

Bukti dari toleransinya Islam kepada umat agama lain ditunjukkan pada salah satu kisah pada masa Khulafaurrsyidin yang saat itu dipimpin oleh Khalifah Umar bin Khattab. Kala itu Umar didatangi oleh seorang Yahudi yang mengadu bahwa ia terkena penggusuran oleh seorang gubernur Mesir Amr bin ‘Ash dengan maksud untuk memperluas bangunan sebuah masjid. Saat itu Yahudi tersebut telah mendapat ganti rugi yang sangat pantas namun ia menolak penggusuran tersebut, hingga akhirnya ia datang ke Madinah dan mengadukan kejadian tersebut kepada Khalifah. Respon Umar kala itu menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai umat lain saat tidak ada keridhaan atau ia merasa tidak mendapat keadilan sekalipun hal itu untuk memperluas rumah ibadah umat Muslim.

Setelah mendengar aduan dari Yahudi tersebut, Umar kemudian mengambil tulang unta dan membuat garis yang berpotongan, yaitu satu garis horizontal dan satu garis vertikal. Kemudian Umar menyerahkan tulang itu kepada Yahudi dan memerintahkannya untuk menyerahkannya kepada Gubernur tadi. Saat tulang itu diserahkan Amr bin ‘Ash memahami apa maksud hal itu, ia berkata bahwa ini adalah peringatan dari Khalifah agar ia berlaku adil (seperti garis vertikal), dan jika tidak lehernya akan dipenggal sebagaimana garis horizontal pada tulang tersebut. Yahudi yang mendengar hal itu begitu kagum dengan keadilan khalifah dan sikap gubernur yang taat pada perintah khalifah dan ketaatan kepada Allah atas syariatnya, ia kemudian memutuskan untuk memeluk Islam dan menyerahkan tanahnya tadi sebagai wakaf.

Begitulah kedamaian yang akan terjadi ketika Islam diterapkan. Namun kondisi hari ini dapat kita lihat ketika Islam ditinggalkan dan hanya digunakan pada ibadah ritual saja. Banyak umat muslim yang didiskriminasi dan dilecehkan karena tidak adanya penjagaan Islam dalam bentuk negara Khilafah. Terbukti bagaimana kebengisan zionis Israel yang sudah lebih dari seratus hari membunuh saudara Muslim kita, namun nyatanya sikap pemimpin hari ini hanya sebatas mengecam, mengecam, mengecam karena alasan diplomatik atau hubungan ekonomi yang menjadikan mereka diam atas apa yang terjadi pada umat Muslim hari ini.

Wallahu a’lam. []


Oleh: Hemaridani
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar