International Women Day, Benarkah Investasi Bisa Memuliakan Perempuan?


MutiaraUmat.com -- Setiap tahunnya, 8 Maret adalah hari perempuan sedunia (International women's day) yang diperingati sebagai hari kebangkitan para perempuan. Setiap tahun pula, akan diadakan women march, satu gerakan para puan yang memperjuangkan isu-isu keperempuanan serta keadilan gender.

Adapun organisasi PBB untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (UN Women) sudah menetapkan tema yang diangkat tahun ini: 'Invest in women: accelerate progress’ (berinvestasi pada perempuan: mempercepat Kemajuan). Di mana mereka menuntut agar negara berinvestasi dengan memberikan kesempatan pada perempuan untuk belajar dan berkarya, termasuk menyediakan dana untuk mewujudkan kesetaraan gender.

Maka menurut mereka, kelak dunia akan mendapatkan banyak keuntungan dari hasil investasi tersebut, karena mencapai kesetaraan gender dan peningkatan kesejahteraan perempuan dalam semua aspek kehidupan diyakini akan menciptakan kesejahteraan ekonomi dan kehidupan yang sehat untuk generasi mendatang. 

Mereka mendorong para perempuan untuk berkarya, berdaya atau bekerja untuk mendapatkan 'produktivitas' diri dan membantu mengentaskan kemiskinan. Semuanya tentu dalam definisi kehidupan saat ini, yaitu kapitalisme dengan semua nilai turunannya.

Ide #investinwomen adalah hasil standar kehidupan berbasis nilai material yang memandang perempuan sebagai satu elemen pembangkit ekonomi. Para feminis, yang katanya berjuang menyetarakan diri agar punya hak dan kebebasan yang sama dengan laki-laki, tapi kapitalisme materialistis yang mereka jadikan standar malah menyeret perempuan untuk dinilai dari uang dan nilai ekonomis yang bisa dia hasilkan.

Mereka mendefinisikan 'berdaya' dengan simbol: financial freedom, punya uang, membantu perekonomian, tidak bergantung pada suami dan sejenisnya. Perempuan yang ingin menjadi ibu rumah tangga biasanya dikecam karena 'mengikuti budaya patriarki', dianggap tidak berdaya, dianggap rendah karena dedikasinya untuk berkhidmat 'mengurusi laki-laki'. Bahwa menjadi ibu rumah tangga merupakan profesi yang tidak punya legitimasi dan tidak produktif karena tidak menghasilkan uang.

Berbeda dengan konsep berdaya dalam kehidupan kapitalisme, Islam secara jelas sudah memberikan tempat terbaik untuk memuliakan kaum perempuan. Bahkan, dalam satu riwayat Rasulullah menyebutkan bahwa mereka yang paling baik adalah yang berbuat baik kepada perempuan, sebagaimana dalam hadits Nabi Muhammad SAW:

 خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِلنِّسَاءِ (رواه الحكيم عن ابن عباس)

Artinya: “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada perempuan.” (HR Hakim dari Ibnu Abbas, kitab Al-Jami’us Shaghir, hadits nomor 4101).

Islam menetapkan dan melindungi hak setiap individu termasuk dalam hal ini perkara pendidikan dan kesempatan yang sama untuk berkarya. Namun Islam juga punya ketentuan atau rambu-rambu atas peran serta kiprahnya dalam masyarakat. Bahwa Islam mendidik kaum perempuan sebagai investasi dalam membangun peradaban yang mulia, bukan hanya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Dalam beberapa sisi, misalnya bentuk hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan dalam hal tertentu memang berbeda, karena fitrah atau bentuk mereka yang berbeda. Misalnya sebagai suami-isteri, posisi dan fungsi mereka berbeda. Suami menjadi provider bagi keluarga, penanggung jawab dan kepala keluarga, sementara isteri menjadi pendidik, rabbatul bait.

Hal ini bukan karena islam merendahkan posisi perempuan, atau menganggap posisinya lebih rendah daripada laki-laki. Pembagian wilayah kerja adalah bentuk penempatan posisi laki-laki dan perempuan sesuai dengan fitrah penciptaannya. Sehingga mereka bisa memaksimalkan potensi diri dalam membangun satu keluarga yang berkesinambungan.

وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا 

Artinya: "Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak). Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

Ayat di atas menunjukkan bagaimana perempuan sebenarnya memiliki aspek kemanusiaan yang sama dengan laki-laki sebagai partner hidup. Keduanya akan saling melengkapi satu sama lain dan saling membutuhkan. Ini membuktikan bahwa perempuan juga memiliki posisi yang terhormat dan memiliki derajat yang tinggi sama halnya seperti lelaki. Maka sebagai seorang perempuan yang beriman, tidak perlu merasa minder atau merasa harus bersaing dengan kaum lelaki, karena Allah memberikan tugas dan tanggungjawab yang berkesesuaian dengan fitrah penciptaan masing-masing. Wallahu a'lam. []


Oleh: Lastrilimbong
Aktivis Muslimah

0 Komentar