Empat Nasihat untuk Kehidupan Akhirat



MutiaraUmat.com -- Sobat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Abu Dzar al-Ghafari ra: “Wahai Abu Dzar ! 1. Perbaharuilah perahumu karena lautan sangat dalam. 2. Ambillah bekal yang banyak karena perjalanan sangat jauh. 3. Kurangilah bebanmu karena jalan sangat terjal. 4. Ikhlaslah beramal karena yang menilai baik dan buruk adalah Dzat Yang Maha Melihat.

Sobat. Nasihat yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada Abu Dzar al-Ghifari ra memiliki makna mendalam dan relevan untuk kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Berikut adalah penafsiran dari empat nasehat tersebut:

1. Perbaharui Perahumu karena Lautan Sangat Dalam: Perumpamaan perahu yang perlu diperbaharui di sini menggambarkan kehidupan manusia di dunia. Seperti perahu yang harus dipelihara agar tidak bocor dan tenggelam di lautan yang dalam, manusia juga perlu memperbaharui diri dan memperbaiki amal perbuatannya agar tidak tersesat dalam godaan dunia dan berakhir dengan kesesatan di akhirat. Dalam konteks ini, perbaharuan dapat meliputi introspeksi diri, memperbaiki kebiasaan buruk, dan meningkatkan amal ibadah.

2. Ambillah Bekal yang Banyak karena Perjalanan Sangat Jauh: Perjalanan yang jauh merupakan perumpamaan dari perjalanan menuju akhirat. Rasulullah menasihati agar manusia mempersiapkan diri dengan bekal yang cukup untuk menghadapi perjalanan panjang tersebut. Bekal dalam hal ini bukan hanya sekadar harta materi, tetapi juga amal kebaikan, ilmu agama, dan ketakwaan kepada Allah SWT. Semakin banyak bekal yang disiapkan, semakin siap pula seseorang menghadapi perjalanan menuju akhirat.

3. Kurangilah Bebanmu karena Jalan Sangat Terjal: Jalan yang terjal merupakan perumpamaan dari ujian dan cobaan yang akan dihadapi dalam kehidupan. Rasulullah menasihati agar manusia tidak membebani diri dengan hal-hal yang tidak perlu, seperti keserakahan dan keduniaan yang berlebihan, karena hal tersebut akan membuat perjalanan hidup menjadi lebih sulit. Mengurangi beban juga dapat diartikan dengan menjaga keseimbangan dalam hidup, tidak terlalu terpaku pada urusan duniawi semata, namun juga memperhatikan urusan akhirat.

4. Ikhlaslah Beramal karena Yang Menilai Baik dan Buruk adalah Dzat Yang Maha Melihat: Nasehat ini menekankan pentingnya ikhlas dalam beramal. Manusia harus melakukan segala amal ibadah dan perbuatan baik dengan niat yang tulus karena Allah SWT sebagai Yang Maha Mengetahui segala hal, termasuk niat dan motivasi di balik perbuatan manusia. Dengan ikhlas, manusia akan mendapatkan keberkahan dalam amalannya dan mendapatkan balasan yang baik di akhirat.

Dengan memahami dan mengamalkan nasehat-nasehat tersebut, seorang muslim diharapkan dapat menjalani kehidupan dunia dengan baik dan memperoleh keselamatan di akhirat.

Makna Ikhlas dalam Pandangan Para Ulama?

Konsep ikhlas merupakan salah satu konsep fundamental dalam Islam yang memiliki makna yang sangat dalam dan penting. Ikhlas berasal dari bahasa Arab yang berarti kemurnian atau ketulusan dalam niat dan amal. Dalam pandangan para ulama, ikhlas memiliki beberapa makna yang penting:

1. Ketulusan dalam Niat: Ikhlas dalam Islam dimulai dari hati yang bersih dan niat yang tulus. Para ulama mengajarkan bahwa setiap amal yang dilakukan haruslah semata-mata karena Allah SWT, tanpa adanya motif atau kepentingan dunia lainnya. Niat yang tulus merupakan dasar dari segala amal yang dikerjakan.

2. Mengesampingkan Riya’ (Pamer): Salah satu musuh terbesar dari ikhlas adalah riya’, yaitu memperlihatkan amal ibadah kepada manusia semata-mata untuk mendapatkan pujian atau penghargaan dari mereka. Para ulama menekankan pentingnya untuk menghindari riya’ dan melakukan amal ibadah semata-mata karena Allah SWT.

3. Konsistensi dalam Amal: Ikhlas juga berarti konsistensi dalam menjalankan amal ibadah, baik dalam situasi yang mudah maupun sulit. Seorang muslim yang ikhlas akan tetap konsisten dalam beribadah meskipun tidak ada orang lain yang menyaksikan atau memberikan pujian.

4. Menerima dan Bersyukur dengan Apa yang Diberikan Allah: Ikhlas juga berarti menerima segala ketetapan dan takdir Allah SWT dengan ikhlas dan ridha. Para ulama mengajarkan bahwa seorang muslim yang ikhlas akan menerima segala ujian dan cobaan dengan lapang dada, serta bersyukur dengan apa yang diberikan Allah, baik berupa nikmat maupun cobaan.

5. Mencari Kehadiran Allah di Setiap Amal: Ikhlas juga mencakup kesadaran akan kehadiran Allah SWT dalam setiap amal dan aktivitas yang dilakukan. Seorang muslim yang ikhlas akan selalu mengingat Allah dalam setiap langkahnya dan berusaha menjalankan amal ibadah dengan penuh kesadaran akan kehadiran-Nya.

Dengan memahami makna ikhlas menurut pandangan para ulama, seorang muslim diharapkan dapat menjalankan ibadah dan aktivitasnya dengan tulus dan ikhlas demi mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memperoleh keridhaan-Nya.

Sobat. Dalam kitab Nashoihul Ibad dijelaskan ada empat perkara yang menyebabkan terangnya hati ialah : Pertama. Perut lapar karena hati-hati. Kedua. Bergaul dengan orang-orang sholeh. Ketiga. Mengingat dosa yang pernah dilakukan. Keempat. Tidak banyak berkhayal.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Safari Ramadhan 1425 H, 21 Maret 2024 di PKT , Bontang Kaltim 

0 Komentar