Seruan Dakwah Mulai Individu hingga Penguasa

MutiaraUmat.com -- Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan sebaik – baik ciptaan, karena itu harus bersyukur dengan menjalankan semua ketetapanNya (syariat Islam) dengan rida. Ketetapan Allah itu berlaku bagi individu hingga penguasa. Ketetapan Allah bagi individu seorang Muslim terbatas, berbeda dengan penguasa yang bisa menetapkan aturan / hukum bagi seluruh masyarakat, juga dampak kerusakan yang dilakukan individu dan penguasapun berbeda pula.

Untuk itu Allah SWT memerintahkan bagi individu untuk malakukan dakwah agar menuju jalan Allah (QS. An-Nahl 125) agar masuk Islam secra menyeluruh (QS. Al-Baqarah 20 ). Yang mana dakwah itu tidak selalu ditujukan kepada individu, juga bisa membongkar kekeliruan penguasa dalam kebijakannya serta penetapan aturan yang tidak sesuai syariat Islam, dan dalam bentuk koreksi (muhasabah) kepada penguasa ini yang sering dilupakan oleh kaum muslimin.

Dakwah yang ditujukan kepada individu sudah banyak dilakukan oleh para mubalig, sedangkan untuk membongkar kebijakan dan muhasabah kepada penguasa masih jarang terdengan di masjid – masjid dan mimbar - mimbar, padahal ini sangat dibutuhkan oleh ummat.

Perlu diketahui bahwa dakwah ini adalah salah satu aktivitas politik untuk mengedukasi ummat juga menyadarkan penguasa terkait kesalahanya menetapkan kebijakan serta aturan yang bertentangan dengan syariat yang berujung pada kehancuran masyarakat, juga pengelolaan negara.
Untuk itu aktivitas ini tidak boleh berhenti, kalua berhenti pemehaman akan Islam menjadi kabur, maka manusia akan melakukan apapun yang dianggap baik, padahal itu dapat mengakibatkan kerusakan, lebih - lebih penguasa yang jauh dari pemahaman akan Islam, maka kerusakannya akan lebih besar.

Misal penguasa melakukan kemaksiatan dengan melakukan kebijakan dalam pengelolahan sumber daya alam diserakhan kepada swasta, dan negara hanya mengambil pajaknya, apa yang akan terjadi?

Pastilah keadaan ummat juga negaranya akan mengalami kesengsaraan, bagaimana tidak yang dinamakan sumber daya alam ( SDA ) itu mempunyai hasil yang melimpah, kenapa diserahkan kepada swasta? yang mana swasta itu bukan bagian dari negara. Malah negara mengabil pajaknya yang mana dalam Islam pajak ini juga haram hukumnya.

Sudahlah sengsara bermaksiat lagi, inilah salah satu contoh, terus bagaimana kalua bidang setrategis negara bukan dikelolah negara, tapi swasta, yang terjadi masti sebuah kerusakan yang parah. Untuk itu seruan dakwah jagan hanya ditujukan kepada individu, tapi juga penguasa yang memiliki potensi dalam melakukan kerusakan yang lebih besar.

Aktivitas dakwah ini bukan hanya kewajiban seorang mubalig semata, tapi bagi seluruh kaum muslimin, mubalig atau bukan. Misal seorang penulis juga bisa dengan tulisannya untuk menyadarkan ummat, membongkar kebijakan serta melakukan muhasabah kepada penguasa.
Semoga tulisan ini menggambarkan kewajiban, siapa saja yang harus diseru, dan dampak positif dakwah, agar kita semua berada dalam barisan para pengemban dakwah sesuai dengan kapasitasnya. Aamiin. []

Oleh: Muchammad Amiruddin
Aktivis Muslim

0 Komentar