Merasa Tak Sanggup Membiayai, Ibu Rendam Anaknya dalam Ember

MutiaraUmat.com -- Rohana (39 tahun) warga Belitung baru saja melahirkan anak ketiganya. Namun, karena merasa khawatir tidak sanggup untuk membiayainya kelak, disebabkan ia dan suaminya hanya bekerja sebagai buruh. Sementara mereka juga harus menghidupi kedua anaknya yang lain ditengah kebutuhan hidup yang kian hari semakin tak terkendali. Akhirnya Rohana memutuskan untuk mengakhiri nyawa anak yang baru saja dilahirkannya itu ke dalam ember. (KumparanNews, 24 Januari 2024).

Perih, sedih bagai disaat sembilu, miris, tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata lagi. Tapi, beginilah fakta yang terjadi saat ini ketika negara mencampakan agama (Islam) sebagai landasan bernegara. Sebab, kejadian seperti ini bukan hanya kali ini saja, bahkan sudah berkali-kali dan kebanyakan penyebabnya adalah karena faktor ekonomi.

Sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan oleh negara telah menjadikan beban hidup yang ditanggung oleh masyarakat terutama orang yang bernama ibu semakin berat. Dan dengan akidah sekulernya (negara tidak boleh mengatur rakyat dengan aturan agama (Islam). Islam hanya boleh dipahami sekedar keyakinan individu dan ibadah saja) telah menjadikan beban berat tersebut semakin tidak mampu dipikulnya.

Di sisi lain, seorang ayah yang sejatinya bertanggung jawab untuk memenuhi semua kebutuhan hidup tidak didorong oleh negara untuk aktif dan kreatif bekerja mencari nafkah dan tidak difasilitasi oleh negara. Malahan negara saat ini memfasilitasi warga asing untuk mendapatkan pekerjaan dengan memberikan pengelolaan sumber daya alam negeri ini kepada WNA tersebut dengan gaji yang fantastik atas nama investasi, dibandingkan dengan warganya yang hanya menjadi buruh kasar dengan gaji dibawah standar.

Karena itu, walaupun para laki-laki atau ayah mendapatkan pekerjaan, kebanyakan gajinya hanya cukup buat makan. Dan itu pun lebih banyak yang jadi pengangguran. Bahkan berbagai UMKM yang disediakan oleh negara kebanyakan diperuntukkan bagi perempuan dan mereka kebanyakan para ibu yang sejatinya tugasnya adalah di rumah mengurus rumah tangga suami dan anak-anaknya. Kini fisiknya yang lemah itu harus dibagi lagi dengan tugas mencari nafkah.

Fitrah seorang ibu yang sejatinya adalah lemah lembut dan penyayang, malaikat yang melindungi si-buah hati dan sosok yang pertama melindungi anak-anaknya dari segala hal-hal yang tidak diinginkan jika menimpa anak-anaknya. Kini telah berubah menjadi sosok yang kejam dan beringas.  Seolah-olah hatinya telah mati, sehingga tidak ada lagi rasa simpati dan empati kepada si jabang bayi yang telah dikandungnya selama 9 bulan dan dilahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Kini ia telah menjadi pelaku kejahatan itu.

Sistem kapitalisme telah merenggut fitrah seorang ibu tersebut. Sistem kapitalisme dengan aqidah sekulernya telah mematikan konsep umat Islam tentang rejeki dan tawakal. Dalam Islam pemahaman tentang rejeki ialah bahwa semua makhluk hidup sudah Allah jamin rejekinya masing-masing. Bahkan jaminan rejeki itu sudah ditentukan ketika seorang anak masih dalam kandungan ibunya.

Dalam Al-Qur'an Allah telah melarang membunuh anak hanya karena takut miskin.
"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rejeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar". (TQS. Al-Isra ayat 31)

Memang semuanya saat ini apa-apa harus ada uang. Mau sehat harus punya uang, kalau tidak punya uang maka akan berbeda kualitas obatnya dan pelayanannya. Mau pintar juga harus ada uang ketika mau masuk ke sekolah yang bagus dan agar bisa sampai ke perguruan tinggi, jika tidak punya uang maka harus rela sekolah yang ada dengan fasilitas seadanya. Bahkan hanya bisa tamat SMA itupun bagi yang bisa.

Ibarat pepatah penjual mengatakan, "ada harga ada kualitas".  beginilah hubungan pemimpin bagi rakyatnya dalam sistem pemerintahan kapitalisme. Negara tidak lagi menjadi pengurus rakyatnya. Kepengurusan rakyat diberikan kepada swasta dan asing. Jadilah segala kebutuhan rakyat harus dibeli/dibayar. 

Walaupun ada subsidi sejatinya tidaklah benar-benar negara memberikan secara cuma-cuma. Tapi negara memungutnya dari rakyat termasuk yang menerima subsidi itu sendiri, dengan menarik berbagai pajak dan dari menaikkan harga barang non subsidi, juga dari hutang yang sejatinya juga dibayar oleh rakyat.

Untuk menyelesaikan problem ini kita tidak bisa masih memakai sistem kapitalisme. Kita tidak boleh lagi  mempertahankan sistem ini. Sebab, sistem kapitalisme inilah biang kerok permasalahan bagi kaum ibu, bagi seluruh perempuan dan seluruh masyarakat saat ini.

Karena itu, wajib bagi kita kaum muslim untuk segera mengganti sistem pemerintahan kapitalisme ini dengan sistem Islam khilafah. Karena khilafah akan menjamin pemenuhan kebutuhan seluruh warga dengan murah dan mudah.

Sistem khilafah akan memfasilitasi laki-laki terutama wali yang punya kewajiban untuk menafkahi keluarganya agar bekerja dan memerintahkan mereka untuk menafkahi keluarganya. Seandainya wali itu tidak mau, maka khilafah akan memberikan sanksi kepada wali tersebut. Dan jika wali tersebut tidak mampu atau sudah meninggal semua. Maka khilafah akan memenuhi kebutuhan kaum ibu beserta anaknya dari mulai kesehatan, pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi dengan cuma-cuma dari harta baitul mal.

Adapun harta Baitul mal itu bukanlah dari pajak yang dipungut dari rakyat, juga bukan dari hutang riba. Tapi dari zakat yang khusus diperuntukkan hanya bagi delapan asnaf, serta SDA yang dimiliki umat yang wajib dikelola oleh negara khilafah. Sebab, Islam tidak membolehkan SDA ini diserahkan pengelolaannya kepada swasta apalagi asing. Dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat sesuai dengan kebutuhan rakyat tersebut. 

Dan sistem pemerintahan khilafah akan menanamkan akidah yang kokoh kepada rakyat termasuk pemahaman yang benar terkait konsep rejeki, ikhtiar dan tawakal serta takdir. Karena itu, umat tetap yakin kalau rejeki dari Allah dan sudah Allah tentukan, bertawakal dengan tawakal yang sempurna. Serta tetap berikhtiar untuk memperolehnya dengan jalan yang halal. Wallahu a'lam bishshowab

Fadhilah Fitri, S.pd.I.
Analisis Mutiara Umat Institute

0 Komentar