Kampanye Hitam Khilafah Jelang Pemilu: Mengapa Mesti Ditakuti?

MutiaraUmat.com -- Mengapa khilafah ditakuti? Jelang Pemilu 2014, narasi agar mewaspadai khilafah yang menyusupi peserta Pemilu bermunculan. Para khilafah haters menyebut paham khilafah tidak bisa diterima di Indonesia karena pertama, Indonesia memiliki beragam kebudayaan dan agama, sedangkan paham khilafah cenderung mereduksi keragaman dan memaksakan menjadi satu pemahaman sangat ketat. 

Kedua, Indonesia adalah negara demokratis yang mengadopsi sistem pemerintahan berdasar konstitusi, sementara paham khilafah mendirikan pemerintahan berdasar interpretasi agama yang ketat, mengabaikan nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia. Ketiga, paham khilafah terkait gerakan ekstremis dan terorisme, sehingga penerimaan terhadapnya  membuka pintu bagi perkembangan ekstremisme dan ancaman keamanan dalam negeri. Benarkah argumen mereka?

Dalam podcast 'Bocor Alus Politik Tempo' bertajuk Operasi Polisi dan Lembaga Negara Memenangkan Prabowo Gibran edisi 10 Februari 2024, di menit ke-21 hingga 22, terungkap adanya operasi polisi kepada kyai-kyai kampung di Jawa Tengah yang menyebar narasi paslon 01 berbahaya karena berpotensi kembalinya khilafah. Operasi itu dilakukan sehari setelah Cak Imin ditetapkan sebagai Cawapres Anies. Sebuah operasi kotor terhadap ajaran Islam khilafah.

Operasi busuk tersebut merupakan fitnah keji karena sengaja menarasikan khilafah bak monster. Khilafah dijadikan sarana untuk menakut-nakuti kyai di Jawa Tengah agar menjauh dari khilafah. Padahal dalam terminologi Islam, khilafah adalah ajaran Islam. Bukan paham (buatan manusia). Mengedarkan narasi jangan memilih paslon tertentu karena alasan khilafah adalah kampanye hitam, bentuk pembusukan terhadap salah satu ajaran Islam nan agung.  

Kampanye Hitam Khilafah: Ketakutan akan Kembalinya Kekuasaan Islam

Kampanye hitam adalah upaya untuk merusak atau mempertanyakan reputasi seseorang atau kelompok dengan mengeluarkan propaganda negatif. Kampanye hitam terhadap khilafah bukan hal yang baru terjadi. Dan eskalasinya bakal meningkat menjelang Pemilu. Black campaign khilafah merupakan bagian pembajakan terhadap politik identitas.

Secara konsep dari berbagai kajian literatur, politik identitas tampak netral. Bahkan cenderung positif karena substansinya adalah perlawanan terhadap ketidakadilan dalam tatanan struktur politik tertentu. Namun dalam praktiknya, digunakan oleh pihak tertentu khususnya saat mereka menganggap terjadi penguatan politik identitas berbasis agama (baca: Islam). 

Para elite politik sekuler  menggunakan isu politik identitas demi menolak penguatan tersebut. Inilah yang membuat makna politik identitas menjadi negatif. Sayangnya, mereka mengaku Muslim tetapi menolak saat Islam dijadikan asas, identitas, dan tatanan kehidupan bermasyarakat secara komprehensif.

Mereka menggunakan narasi buruknya politik identitas untuk menyerang simbol-simbol ajaran Islam dan memposisikan syariah Islam secara negatif. Pun demi menyerang Islam dan kaum Muslim. Misal, terkait penutupan tempat maksiat menjelang Ramadhan, menolak pelaku L68T, menolak pernikahan beda agama, fatwa MUI tentang haramnya sekularisme, pluralisme, dan liberalisme, serta “perda syariah” dianggap sebagai penguatan (keburukan) politik identitas. Pun dukungan umat agar pemerintah tegas melarang Ahmadiyah dan Syiah, sikap umat menolak Perppu Ormas yang berujung pencabutan status Badan Hukum Perkumpulan (BHP) HTI dan pembubaran FPI, menolak rencana Polri mengawasi masjid dan pendataan pesantren yang dianggap radikal oleh BNPT, hingga monsterisasi khilafah dan pengaitannya dengan terorisme.

Semua ini menerangkan bahwa para pembajak isu politik identitas mengarahkan serangannya pada Islam dan kaum Muslim. Ironisnya lagi, pelakunya tidak hanya elite politik secara individu atau kelompok (ormas atau partai politik), tetapi juga penguasa.

Adapun kampanye hitam khilafah sering muncul dalam Pemilu dimungkinkan karena pertama, sebagai sarana menjegal lawan politik di arena kompetisi Pilpres/Pileg. Isu khilafah di balik pencalonan Anies Baswedan misalnya, diduga untuk memberikan kesan Anies sebagai sosok berbahaya bagi bangsa. Sebagaimana yang sering didengungkan bahwa bahaya khilafah lebih aktual dibanding komunisme. Pejuangnya lebih berbahaya daripada PKI. Sehingga memilih Anies sebagai presiden berarti menginginkan sistem monster khilafah hadir kembali. Begitulah nalar mereka.

Kedua, bentuk ketakutan akan kembalinya khilafah sebagai sistem pemerintahan. Menyelisik di balik black campaign khilafah, tentu tak bisa dipisahkan dari agenda global Barat. Pasca Uni Soviet sebagai pengusung utama komunisme ambruk, tinggal Islam ideologi kompetitor bagi kapitalisme yang dihela oleh Amerika Serikat. Jadilah Islam lawan tunggal mereka. Dan ajaran yang mereka anggap paling berbahaya adalah khilafah. 

Lord Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris pada masa keruntuhan Khilafah Utsmaniyah menyebut bahwa Turki telah hancur dan tak mungkin kembali bangkit, karena dua kekuatannya yaitu Islam dan khilafah telah dihancurkan. Maka saat ini cita-cita kaum Muslimin untuk menegakkan kembali khilafah telah menghantui Barat. 

Demi menghalau kebangkitan Islam agar tak membesar, mereka melakukan berbagai cara melalui penguasa Muslim anteknya. Dari adu domba umat Islam dengan mengkotak-kotakkan dalam aliran radikal (pro khilafah), liberal (tolak khilafah), dan lain-lain. Hingga monsterisasi dan kriminalisasi khilafah dengan menisbatkannya sebagai ajaran radikal dan peletak dasar terorisme.

Itulah kenapa kampanye hitam khilafah selalu hadir jelang Pemilu karena pihak berkuasa diduga khawatir khilafah akan tegak kembali melalui capres/caleg tertentu. Padahal belum tentu kandidat yang dimaksud benar-benar memperjuangkan khilafah. Faktanya, hingga saat ini tak ada satu pun capres-cawapres yang berkomitmen menegakkan khilafah.

Dampak Kampanye Hitam Khilafah jelang Pemilu terhadap Dakwah Ajaran Islam Kaffah

Para pembenci khilafah melakukan kampanye hitam dengan menebar propaganda negatif melalui monsterisasi atau demonologi khilafah. Yaitu upaya penyetanan atau penghantuan ide khilafah dengan penggambaran atau pencitraan khilafah sebagai demon (setan, iblis atau hantu) yang jahat (evil) dan kejam (cruel). Atau dengan kata lain merupakan perekayasaan sistematis untuk menempatkan ide khilafah dan para pejuangnya agar dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan.

Tentu sasaran demonologi ini tak hanya non-Muslim dengan makin kuatnya islamofobia, melainkan juga kaum Muslim sendiri agar mereka menjauhi khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam. Sehingga upaya sekularisasi kaum Muslim dapat terus terwujud dengan lancar.

Beberapa pencitraan negatif tentang khilafah dan para pengembannya terjadi melalui penjulukan misalnya “Anti Kebhinekaan”, “Benih Radikalisme”, “Meresahkan Masyarakat” dan “Pemecah-belah”, yang populer dipromosikan oleh media massa dan para tokoh yang anti-Islam. Tentu hal ini akan berdampak buruk terhadap dakwah ajaran Islam Kaffah yaitu;

Pertama, citra khilafah sebagai ajaran Islam dan solusi problematika yang akan mewujudkan rahmatan lil alamin tenggelam berganti menjadi permusuhan terhadap ide khilafah dan pejuangnya. Kebaikan dan keindahan Islam hilang. Kampanye hitam terhadap khilafah justru meninggalkan kesan buruk terhadap ajaran Islam. 

Kedua, menumbuhkan khilafahfobia, sekaligus membabat gerakan perjuangan khilafah. Yang terindera oleh umat akhirnya adalah khilafah buruk, berdarah-darah, intoleran, memecah-belah. Bagaimana umat tak akan takut bila khilafah dicitrakan terus-menerus seperti itu? Sungguh pembunuhan karakter luar biasa terhadap ajaran Islam yang mulia.

Ketiga, melahirkan kelompok-kelompok pragmatis yang serakah. Politisi Muslim yang terseret arus demonologi khilafah hanya berpikir untuk mendapatkan kekuasaan demi memuaskan syahwat politik dirinya dan lingkarannya. Tak ada visi untuk menyelamatkan rakyat (umat Islam) apalagi melayani urusan mereka. 

Keempat, menumbuhkan siklus perpecahan di tubuh umat. Muncul kelompok prokhilafah dan antikhilafah. Yang pro disebut kaum radikal, yang anti adalah liberal atau modernis. Politik pecah-belah berjalan. Inilah salah satu strategi penjajah dari dulu hingga sekarang untuk menguasai Indonesia. 

Kelima, penyumbatan langkah perjuangan dakwah Islam untuk membangun pemahaman dan sikap ber-Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan pada diri umat. Kampanye hitam jelas menjadi penghambat. Diajak berislam kaffah sesuai perintah Allah SWT saja umat Islam takut. 

Keenam, langgengnya imperialisme Barat atas negeri-negeri kaum Muslim termasuk Indonesia atas nama Global War On Terorrism (GWOT), HAM, demokrasi, pasar bebas dan sebagainya. Akhirnya dengan  dampak tersebut di atas, selanjutnya akan mengokohkan hegemoni Barat di negeri berpenduduk mayoritas Islam ini. Umat hanya laksana buih dalam lautan. Persis sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis akhir zaman. 

Jelas bahwa demonologi khilafah sebagai bentuk kampanye hitam merupakan upaya sistematis untuk menumbuhkan khilafahfobia dan membasmi dakwah yang menyeru hidup di bawah naungan khilafah. Hingga langgengnya cengkeraman imperialisme Barat atas negeri-negeri kaum Muslimin termasuk Indonesia.

Strategi Menghadapi Kampanye Hitam Khilafah di Negeri Mayoritas Muslim

Menuduh khilafah pemecah-belah dan sumber kekacauan merupakan pernyataan gagal paham. Pun menunjukkan kebodohan akan sejarah kegemilangan Islam. Tinta emas sejarah mencatat dalam rentang waktu sekitar 1.300 tahun, khilafah eksis menaungi warga negaranya yang beraneka agama, suku, ras, dan budaya. Seharusnya para khilafah haters belajar cara khilafah menaungi kebhinekaan dan mewujudkan persatuan. 

Salah satu inti ajaran khilafah adalah ukhuwwah. Sebagai kepemimpinan umum atas kaum Muslimin di seluruh dunia, misi khilafah adalah menyatukan, bukan memecah-belah. Tak hanya hendak menyatukan umat Islam di satu atau beberapa negeri, bahkan seluruh dunia. 

Allah SWT telah menciptakan manusia beraneka ragam. Maka Islam menyediakan khilafah sebagai sistem pemerintahan yang mampu menaungi dan mengelola keragaman ciptaan-Nya. Bagi umat Islam, jelas khilafah bukan ancaman apalagi menakutkan. Karena khilafah adalah ajaran Islam. Ia wa'dullah (janji Allah SWT) dan bisyarah Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin khilafah adalah monster? Layakkah Muslim takut pada ajaran agamanya sendiri?

Begitu masifnya mereka menjalankan monsterisasi khilafah, seharusnya tak membuat umat Islam berdiam diri. Berikut strategi yang bisa dilakukan menghadapi kampanye hitam khilafah di negeri mayoritas Muslim.

Pertama, terus melakukan pembinaan umat berdasarkan akidah murni dan lurus. Akidah kuat akan membentengi umat Islam dari pemahaman sesat dan propaganda negatif. Serta keyakinannya tak mudah goyah terhadap kebenaran syariat Allah SWT.

Kedua, meningkatkan tsaqafah Islam baik bagi pengemban dakwah maupun umat Islam secara umum. Penguasaan terhadap bahasa Arab, Ulumul Quran, Hadis, Ushul Fikih, dan lain-lain, akan menghindarkan umat dari pemahaman keliru.  

Ketiga, menggencarkan dakwah berbasis shira’ul fikri (pergulatan pemikiran). Dengan cara menjelaskan kebatilan ideologi sekularisme kapitalisme dan menggambarkan pemahaman yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Agar umat tidak terjebak pada pusaran ide batil, pun paham sekularismelah biang kerok dari problematika umat.

Keempat, penyampaian dakwah disertai kasyful khuththath (menyingkap makar di balik sesuatu). Umat Islam juga harus mengetahui bahwa di balik kampanye hitam khilafah terdapat makar jahat (hidden agenda)  oleh negara-negara Barat dengan perpanjangan tangan beberapa kalangan dari umat Islam. Sehingga umat tidak terlibat dalam upaya pecah-belah diri mereka sendiri. 

Kelima, menumbuhkan kesadaran akan musuh bersama (common enemy). Kesalahan menetapkan musuh menyebabkan kesalahan bersikap. Perlu penegasan bahwa musuh utama umat adalah ideologi lawan yaitu kapitalisme sekuler berikut ide turunannya maupun sosialisme komunis. Bukan sesama umat Islam meski berbeda kelompok/organisasi.  

Keenam, mengoptimalkan penggunaan seluruh media milik umat Islam untuk membendung opini buruk yang menyudutkan umat Islam. Individu maupun komunitas Muslim sebagai pemilik atau pengelola media hendaknya bervisi dakwah dan menjadikan medianya sebagai sarana membendung pemikiran batil dan menyampaikan kebenaran. 

Ketujuh, sinergi antarkomponen umat Islam. Komponen umat yang terdiri dari para tokoh Islam, aktivis gerakan Islam, ulama, ustaz, penggerak majelis taklim, dan lain-lain bersinergi dalam mendakwahkan Islam. Pun menolak kampanye hitam terhadap ajaran, kelompok, umat Islam.  

Kedelapan, meningkatkan literasi hukum dan politik terkait nasib umat Islam. Khususnya menyikapi tuduhan khilafah ajaran terlarang. Agar umat memahami ajaran terlarang itu seperti apa dan tidak mudah terpengaruh opini negatif  tentangnya. 

Demikian strategi umat Islam menghadapi kampanye hitam khilafah di negeri mayoritas Muslim ini. Strategi dijalankan dengan konsepsi dan arah perubahan jelas, terarah, dan terukur. Tetap dalam kerangka melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan penerapan syariat Islam melalui penegakan institusi khilafah islamiyah. Hanya dengan perubahan demikian, kebangkitan Islam akan kembali tegak. Dan Islam hadir lagi sebagai rahmat bagi seluruh alam.



Oleh: Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum. (Pakar Hukum Masyarakat) dan Puspita Satyawati (Analis Politik dan Media)

0 Comments