Investasi Pahala dengan Menulis

Mutiaraumat.com -- Kematian menjadi sesuatu yang pasti dialami oleh setiap manusia (QS. Al-Ankabut: 57). Tidak ada yang lolos darinya, meski ia kaya, rajin olahraga, terkenal, rupawan, sehat dan cerdas. Semua pasti mati. Bahkan orang ateis sekalipun tidak menyangkal hal tersebut.

Terpenting untuk kita perhatikan adalah bukan ‘kapan mati’ tapi apa yang dipersiapkan sebelum kematian datang. Menarik apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw:

“Ketika seorang manusia meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mau mendoakannya.” (HR. Muslim).

Ketiga hal inilah yang seharusnya kita kejar, bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan harus mati-matian dalam mengejarnya. Sebab kesempatan manusia sangat terbatas, hanya berkisar 60-70 tahun, belum dikurangi masa anak-anak, masa tidur, masa lalai dan main-main. Oleh sebab itu, kebutuhan akan amal jariyah begitu penting bagi setiap manusia.

Salah satu dari ketiga amal jariyah itu adalah ‘ilmu yang bermanfaat’. Secara sederhana, ‘ilmu yang bermanfaat’ diartikan sebagai aktivitas seseorang dalam menyebarkan informasi-informasi penting yang dapat menjadikan seseorang lebih taat lagi kepada Allah Swt.

Metode penyebarannya, salah satunya dengan tulisan. Kita bisa menyaksikan hari ini, ada banyak karya tulis oleh orang-orang terdahulu yang sudah meninggal ribuan tahun lalu, namun tulisannya masih bisa dinikmati hingga saat ini, manfaatnya masih terasa.

Bayangkan berapa banyak pahala yang beliau panen, wasilah dari karya tulisnya yang menakjubkan. Inilah yang disebut investasi pahala.
Tidakkah manusia tergiur dengan ini? Kami yakin, orang-orang yang meyakini adanya kampung akhirat pasti sangat ingin berinvestasi pahala.

Lantas, bagaimana cara agar dapat investasi pahala? Setidaknya ada dua hal yang mesti dan harus konsisten untuk dilakukan, 

Pertama, Terus Belajar dan menimba Ilmu. Ibarat sebuah teko, ia tidak akan mengeluarkan apa-apa jika tidak ada isinya. Begitupula manusia, ia tidak akan mampu mengeluarkan ilmu, jika kepalanya tidak pernah diisi dengan ilmu. Maka yang pertama dan paling penting untuk dilakukan adalah tholabul ‘ilm, ikutilah berbagai pengajian, majelis ilmu dan tabligh akbar. Insya Allah akan ada secercah cahaya (ilmu) yang bisa kita dapatkan.

Setelah memperoleh ilmu, tentu harus diamalkan, sebagaimana kata pepatah Arab, “Ilmu yang tak diamalkan bagaikan pohon tak berbuah.” Diamalkan juga menjadi hak ilmu yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban.

Kedua, Menulis. Setelah belajar dan mengamalkan, selanjutnya adalah mendakwahkan. Salah satu uslubnya bisa dengan menulis. Apalagi saat ini, kita bisa menyebar tulisan di berbagai media online, tidak perlu nunggu diterbitkan oleh media mainstream. Semua bisa menulis dan menerbitkan di kanal medianya masing-masing.

Oleh karenanya, untuk memperoleh investasi pahala, tentu diperlukan niat yang benar, amalan yang sungguh-sungguh serta konsistensi. Konsistensi menjadi hal yang sangat berat, apalagi ditengah terpaan rasa malas dan kemudahan dalam melakukan berbagai aktivitas.

Oleh sebab itu, azzam (tekad) yang kuat diperlukan, serta senantiasa mengingat tujuan (ridha Allah), agar semangat tetap terjaga dan pergerakan tetap optimal.

Dalam dunia tulis-menulis ada beberapa genre yang bisa diambil atau difokusi. Kami lebih cenderung pada tulisan penggugah nafsiyah (kepribadian), karena dengan itu, bisa membuat banyak orang sadar dan kembali pada jalan yang benar.

Mudah-mudahan banyak pelajaran yang bisa diambil. Jiwa menjadi mudah untuk tunduk dan taat pada aturan Ilahi. Serta jalan menuju investasi pahala semakin mudah untuk diraih.[]

Oleh. Ma'arif Amiruddin
(Aktivis Muslim)

0 Comments