Indonesia Dikuasai Oligarki yang Memanfaatkan Instrumen Demokrasi

MutiaraUmat.com -- Pengamat kebijakan publik Dr. Erwin Permana membeberkan realitas kekuasaan yang sebenarnya ada di Indonesia adalah kekuasaan oligarki. 

"Di Indonesia itu yang ada adalah kekuasaan oligarki yang memanfaatkan instrumen demokrasi untuk mempertahankan kekuasaannya. Jadi sebetulnya penguasa sejati di Indonesia itu siapa? Oligarki. Ini gejala begitu kuat, mudah kita telaah sepanjang penyelenggaraan pemilu sekarang ini. Coba siapa diantara calon presiden yang dia secara bebas menentukan wakilnya dia? Pasti ditentukan oleh partai untuk kepentingan partai yang di belakang partai itu adalah para pemodal," bebernya dalam Program Live Diskusi: Pemilu, Nasib Umat Makin Pilu di Youtube UIY Official pada Ahad, (11/2/2024). 

Ia juga mengutip statment Jeffrey Winters seorang ilmuwan politik peneliti oligarki yang mengatakan 'sebenarnya di Indonesia itu tidak ada namanya demokrasi, yang ada adalah kekuasaan oligarki yang berusaha untuk mempertahankan kekuasaannya'.

Ia menuturkan, seorang calon presiden seharusnya adalah seorang yang independen, merdeka dan bukan orang yang mudah didikte.

"Kalau dari pencalonannya saja dia sudah didikte oleh orang lain bagaimana dia kemudian membuat kita ini menjadi negara yang independen? Menentukan pilihan calon presiden aja enggak bisa. Ini masyarakat pada akhirnya memilih calon- calon yang sudah ditunjuk oleh oligarki itu, itu yang terjadi kan. Oligarki itu untuk mempertahankan bisnisnya, kekuasaanya, pengaruhnya, mempertahankan semua jejaring oligarki yang itu kita enggak bermain di lorong lorong oligarki, yang kita enggak pernah tahu siapa berbisnis siapa, menanam modal di partai mana, menanam investasi di pulau mana, di daerah mana. Jadi sebetulnya yang menjadi tangan-tangan di belakang permainan politik ini adalah oligarki yang paling berkepentingan untuk mempertahankan eksistensi mereka," jelasnya. 

Sampaikan Kebenaran sekalipun itu Pahit

Dengan demikian, agar pemahaman umat tidak tersesat maka dibutuhkan lisan-lisan yang lurus dan mulia untuk mengatakan dengan tegas yang baik itu baik, yang buruk itu buruk. Ia juga berpesan agar para penyeru kebaikan jangan gagap dalam menyampaikan kebenaran, terus terang saja dalam membongkar kebobrokan. 

"Sehingga pemahaman umat enggak kacau ketika melihat fakta hari ini. Penyelenggaraan pemilu ini memang disokong oleh para oligarki, ya, kita katakan saja apadanya bahwa memang dibalik capres itu ada partai, dibalik partai ada oligarki, itu yang kemudian terbukti dari kebijakan-kebijakan setiap presiden yang ada senantiasa menguntungkan para oligarki sedangkan nasib masyarakat dari tahun ke tahun, puluhan tahun Indonesia ini sudah merdeka ini begitu-begitu saja," tuturnya. 

Ia juga mengingatkan tentang nasihat yang senantiasa terngiang dari para gurunya sejak duduk dibangku sekolah dasar bahwa 'sampaikan kebenaran sekalipun itu pahit'. Oleh karena itu, lanjutnya, sampaikanlah tentang bobroknya sistem yang sedang diterapkan, arahkan perubahan ke arah Islam dan tempuhlah caranya sebagaimana metode yang dilakukan Rasulullah Saw maka dengan cara ini negeri punya masa depan sangat cerah. 

"Ketika ada ajaran baik yang menyeru kepada kebaikan bukan hanya sebatas kita paham berkaitan dengan fakta kebobrokan. kita juga harus mengetahui fakta arah perubahan ke arah mana dan mengerti cara mengarah kesitu. Umat harus dalam kerangka seperti itu sekarang ini," tandasnya. []Tenira

0 Komentar