DBD Makin Parah Mengigit Rakyat, Saatnya Keluar dari Sistem Karat

MutiaraUmat.com -- Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), hingga minggu ke-52 tahun 2023, tercatat 98.071 kasus DBD dengan 764 kematian. Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. Hartono Gunardi SpA(K), mengatakan bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terinfeksi DBD.

Dante menjelaskan bahwa kasus DBD di Indonesia mulai meningkat pada bulan November lalu dan mencapai puncaknya pada bulan Februari. Hal ini terjadi lagi karena Indonesia saat ini berada dalam siklus el nino, yang menghasilkan suhu panas yang mendukung intensitas nyamuk penyebab DBD (www.liputan6.com, 4/2/2024).

Teknologi Wolbachia terus dikembangkan untuk mencegah DBD, dan pembiakan nyamuk Wolbachia membutuhkan waktu lama. Misalnya, untuk penerapannya di Kota Semarang, diperlukan 10 juta nyamuk ber-Wolbachia agar efektif. Karena teknologi ini tergolong baru, ada kendala terkait anggaran dan kemampuan untuk memperbanyak nyamuk ber-Wolbachia (www.kompas.id, 5/02/23). Selain itu, cara efektif lainnya untuk mengendalikan penyakit DBD ini adalah dengan melakukan upaya pencegahan dengan memutus rantai penularan melalui gerakan PSN-DBD. Harapannya adalah gerakan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan lingkungan dan mendorong mereka untuk hidup bersih dan sehat (www.rmolsumsel.id, 30/01//24).

Kasus ini muncul bukan tanpa alasan, layaknya asap tentu ada api yang mengawalinya. Penyakit DBD yang menyerang manusia muncul karena gigitan nyamuk aedes aegypti. Nyamuk ini muncul sebab beberapa hal yang mendasarinya yaitu genangan air yang ada di atas permukaan selain tanah, lingkungan hidup yang kotor seperti menumpuknya sampah konsumsi dan berkumpulnya banyak orang di satu wilayah yang mengakibatkan kepadatan penduduk di wilayah tersebut sehingga produksi besaran-besaran pun terjadi dan tidak menutup kemungkinan konsumsi pun banyak bermunculan.

Perihal kasus ini, belum ada solusi yang menyelesaikan. Tetapi ada upaya pencegahan yakni memberikan imunisasi terutama kepada anak-anak yang sering terkena penyakit DBD. Selain itu adanya himbauan untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta pengembangan teknologi yang masih dalam proses merakit untuk mengurangi kasus ini. Beberapa hal diatas sudah pernah dilakukan namun belum memberikan hasil yang signifikan. Namun, ada hal yang berbeda yaitu penggunaan teknologi untuk mengurangi kasus ini yang faktanya membutuhkan waktu yang lama untuk pembentukan puluhan juta nyamuk yang dapat memberantas nyamuk penyebab DBD.

Kasus ini terkait dengan sehat atau tidaknya rakyat di suatu negara, maka fokus yang utama adalah memperhatikan kembali layanan kesehatan untuk seluruh rakyat. Jika dilihat pelayanan kesehatan di negeri ini bersifat kasta, terlihat ketimpangan antara kaya dan miskin, terlihat kualitas pelayanan yang diberikan sesuai dengan pembayaran yang dilakukan sehingga berkemungkinan besar ada rakyat dan tidak dapat mengakses layanan tersebut karena harus mengeluarkan biaya yang mahal. Banyak prosedur yang menyulitkan rakyat dan ketidakmerataan muncul dalam layanan kesehatan di negeri ini, hal ini harus diperhatikan ulang oleh negara karena negara bertugas dan bertanggung jawab melayani masyarakat secara keseluruhan tanpa membedakan antara si kaya dan si miskin sehingga semua mendapatkan layanan kualitasnya optimal.

Kesehatan adalah hak seluruh manusia yakni rakyat. Namun, pada kenyataannya tidak semua rakyat mengalami kesejahteraan ekonomi, tidak semua rakyat merasakan lingkungan yang sehat dan bersih dan tidak semua rakyat yang sadar akan kebersihan lingkungan alam sekitarnya.

Ekonomi yang tidak mumpuni membuat rakyat sulit untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan bersih, sehingga ini akan berdampak pada kesehatan yang buruk. Disamping itu, adanya budaya konsumerisme yang sebagian besar berada pada kalangan menengah atas membuat mereka lupa untuk memperhatikan lingkungan alam sekitarnya hingga memperbanyak barang konsumsi yang menghasilkan sampah konsumsi.

Sehingga wajar dengan hal-hal pendukung diatas, masyarakat mengalami penyakit DBD. Namun hal yang paling mendasar dari semua itu adalah pondasi yang digunakan oleh negara ini yaitu suatu aturan yang melingkupi suatu negara yang menjadikan materi sebagai fokus utama agar dapat bergerak melakukan perbaikan. Cara pandang ini tidak hanya menyasar negara tetapi juga masyarakatnya. 

Materi menjadi hal yang utama sehingga lupa akan tugas negara mengurus rakyat dan rakyat yang menjadikan materi sebagai orientasi kebahagiaan hidup mereka maka terbentuklah perilaku bebas berbuat sesuka dan semaunya tanpa memperdulikan akibat akhir yang akan didulang. Kebebasan untuk membeli apapun karena melupakan konsep prioritas yakni mengutamakan kebutuhan dan meminimalisir keinginan. Maka sistem inilah yang membuat negara maupun rakyat bergerak untuk menjadi orang-orang yang kapital. Ketika sistem ini sudah menampakkan keburukan-keburukannya dari berbagai aspek terutama ekonomi dan kesehatan maka tidak ada harapan lagi untuk mempertahankan sistem ini baik oleh negara maupun rakyat.

Islam tidak hanya agama melainkan sebuah aturan kehidupan yang harusnya diterapkan oleh negara. Dengan demikian, Islam sebagai sebuah sistem bernegara memiliki pengaturan baik dari aspek kesehatan maupun ekonomi. Dalam aspek ekonomi, Islam memiliki tujuan untuk menyejahterakan seluruh rakyat mulai dari pemenuhan kebutuhan pokok yaitu sandang, pangan dan papan yang merupakan hak dasar seluruh rakyat. Maka negara berkewajiban memenuhi semua itu termasuk makanan yang halal lagi pula baik, tempat tinggal yang sehat dan bersih jauh dari sumber penyakit dan adanya aturan dalam pengelolaan harta milik pribadi untuk kebaikan diri dan tidak memberikan bahaya untuk alam sekitar sehingga dapat meminimalisir munculnya penyakit DBD.

Dalam aspek kesehatan, seperti halnya kewajiban negara dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Kesehatan merupakan hak asasi atau dasar yang harus dipenuhi oleh negara kepada rakyatnya. Mulai dari kuantitas layanan kesehatan yaitu meningkatkan fasilitas yang canggih untuk kebutuhan rakyat dengan sumber dana dari baitul mal atau kas negara. Selain itu peningkatan kualitas layanan yang merata lagi baik dan benar dalam kualitas administrasi dan bersifat memudahkan bahkan gratis untuk rakyat sehingga rakyat mendapatkan layanan kesehatan yang optimal dan dapat terobati, terutama dalam kasus DBD. Lalu jika diperlukan teknologi yang secara efektif mampu mengurangi kasus DBD maka negara akan memperhatikan betul teknologi tersebut untuk pemanfaatan rakyat dan mengambil sumber dana baitul mal untuk ikhtiar (usaha) mengobati rakyat.

Sungguh Islam memiliki aturan yang menyeluruh dalam kehidupan manusia. Fitrahnya seluruh manusia menginginkan kebaikan, kemudahan dan kesejahteraan serta keadilan. Maka Islam memberikan itu semua kepada seluruh manusia baik itu muslim bahkan non-muslim sekalipun akan merasakan kebaikan tersebut ketika negara Islam ditegakkan atas seluruh manusia di dunia. Maka seorang muslim harus yakin bahwa Islam memiliki solusi yang tuntas dalam menyelesaikan persoalan kehidupan manusia sehingga segera ditegakkannya kalimat Allah. Bahwasannya Islam adalah agama yang diridhai oleh Allah dan Islam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta.



Oleh: Osami Putri Anelta
Aktivis Muslimah

0 Komentar