Berpendidikan tetapi Tidak Mencerminkan Terdidik

MutiaraUmat.com -- Baru-baru ini terdapat kasus pembunuhan satu keluarga di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Kabupaten PPU ini terjadi pada Selasa (06/02).  yang terdiri dari seorang ayah, ibu, anak pertama 15 tahun, anak kedua 12 tahun dan anak ketiga 3 tahun, dilakukan oleh seorang siswa yang masih duduk di bangku SMK. Motifnya si pelaku ditolak cintanya dari salah satu korban yang usianya 15 tahun, selain itu si korban juga meminjam helm yang tidak kunjung dikembalikan serta ada masalah percekcokan ayam.

Mulanya pelaku melakukan pesta miras bersama temannya, kemudian si pelaku kepikiran untuk menyerang satu keluarga ini dengan sebilah parang dengan panjang 60cm yang tidak memiliki gagang. 

Pelaku melakukan itu di malam hari dengan mematikan saluran listriknya, dimulai dari sang ayah, ibu kemudian anak-anaknya. Selain membunuh pelaku juga menyetubuhi si anak pertama dan ibunya. 

Selain itu si pelaku juga mengambil tiga gadget milik korban serta uang sebesar 300.000 ribu. 


Melihat fakta di atas tidak hanya satu atau dua kali terjadinya pembunuhan dan faktanya ya gitu-gitu saja tidak ada perubahan, sekalipun si pelaku dihukum penjara seumur hidup, besoknya pasti ada pelaku yang baru. Kenapa bisa begitu? 

Ya, karena dalam sistem sekarang ini sangat jelas yang mana memisahkan agama dari kehidupan. Apa-apa tidak dilandasi halal dan haram, bahkan bagaimana kedepannya apakah perbuatan ini menghantarkan masuk surga atau sebaliknya. 

Selain itu, di dalam sistem saat ini hukuman itu tidak membuat seseorang menjadi jera bahkan hukuman saat ini tidak dapat menghapuskan dosa yang dilakukan. Nyatanya ketika, saat ini ada korban pembunuhan dan dipenjara besok ada lagi dan lagi. 

Buruknya sistem saat ini juga berpengaruh terhadap generasi kedepannya. Contoh saja peristiwa di atas, itu si pelaku masih duduk di bangku SMK saja sudah seperti itu, bahkan dia itu anak terpelajar tetapi kenapa tidak mencerminkan kalau dia itu terdidik? 

Ya, lagi-lagi sistem saat ini tidak mengajarkan nilai-nilai akidah atau pondasi Islam yang tertanam. Bahkan pelajaran agama pun seminggu hanya satu jam tidak lebih bahkan kadang kala jam kosong, di situ pula cuman dijelaskan teori bukan bagaimana jika melakukan ini dosa atau tidak, bagaimana apakah perbuatan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban? Bahkan pertanyaan mengapa harus Islam, sebab terkadang banyak yang mengaku Islam tetapi tidak mencerminkan Islamnya bahkan jauh dari kata Islam. Ya lagi-lagi itu ulah sistem yang telah menyeting agama dipisahkan dari kehidupan. 

Sistem Sekularisme memang menjadikan orang-orang yang ada di dalamnya jauh dari Allah jauh dari kata Islam, ya karena dipisahkan tersebut. Ngerinya lagi kasus ini terus berulang dan tidak ada solusi yang tuntas. 

Lalu bagaimana cara mengatasinya yang pasti tidak akan terulang kembali? 

Kita tarik kesimpulan dulu dari pembahasan di atas, sistem Sekularisme itu sebenarnya adalah sistem buatan manusia yang digunakan manusia itu sendiri bahkan sistem tersebut berlandaskan hawa nafsu, materi bukan lagi halal dan haram. Kan lucu gitu ya, manusia diciptakan Allah SWT eh buat aturan sendiri dan dipakai sendiri. Padahal Allah telah menciptakan manusia disertai dengan aturan-aturan yang telah diberikan bahkan sistem sebaik-baiknya sistem adalah sistem Allah. 


Selain menciptakan manusia Allah pun menciptakan sebuah aturan yang wajib dilaksanakan, Allah memerintahkan untuk mentaati peraturan dan menjauhi apa yang dilarang. Tetapi, karena saat ini yang digunakan sistem manusia makanya orang-orang yang ada di dalamnya pun ikut bobrok sebab sistemnya bobrok. 

Beda dengan sistem Islam sebab sistem Islam atau disebut sistem Khilafah Islamiyyah itu berasal dari Allah SWT yang diwahyukan kepada nabi Muhammad. Makanya ketika manusia diciptakan Allah serta menjalankan apa yang diperintahkan Allah serta mengikuti aturan yang Allah tetapkan tidak mungkin akan terjadinya sebuah peristiwa seperti di atas. 

Dalam sistem Islam, orang-orang yang ada di dalamnya akan dipahamkan mengenai akidah, halal dan haram serta apa-apa yang dilakukan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Jadi, meskipun seseorang itu terpelajar jika akidahnya tidak ditanamkan maka terjadilah seperti peristiwa di atas. Karena akidah itu penting dan mendasar, ibaratnya pohon akidah itu akarnya jika akarnya saja sudah menghujam ke bawah maka apa-apa yang ada di atasnya akan kuat dan kokoh. Tetapi, kalau akarnya tidak menghujam ke bawah maka apa-apa yang ada di atasnya mudah terombang-ambing tidak tau arah bahkan bisa roboh. Ya seperti si pelaku di atas karena dia belum mengenali diri sendiri dan sang pencipta maka dia berani melakukan hal seperti itu karena dia pikir kelak di akhirat tidak diminta pertanggungjawabannya. 

Selain itu, dalam sistem Islam terdapat dua hukum yang mana bisa membuat pelaku menjadi jera bahkan bisa menghapuskan dosa pada masa di dunia, jadi ketika di akhirat sudah tidak ada lagi yang namanya hisab dosa yang dilakukan masa di dunia. 

Tentunya semua ini tidak bisa dilakukan secara individu melainkan sebuah negara yang harus melakukannya. 100 tahun lamanya Sistem khilafah runtuh dan menjadikan orang-orang di dalamnya seperti saat ini, banyak pembunuhan yang terulang, dsb. 

Maka dengan itu kita wajib menegakkan syariat yang Allah tetapkan yaitu mengganti sistem sekularisme yang bobrok ini dengan sistem Khilafah dalam naungan Islam kaffah. 

Sekali lagi sebaik-baiknya sistem adalah sistem Allah, dan Allah adalah pencipta seluruh manusia, alam semesta dan kehidupan. Kita diciptakan tentu saja diperintahkan mengikuti aturanya bukan malah membuat atau mengikuti aturan buatan manusia. 

Saatnya bangkit, menegakkan sistem Allah. It is time to be one ummah.

Oleh: Indah Setyorini
Aktivis Muslimah

0 Komentar