Belajar Menulis Dakwah dari Komunitas atau Pelatihan


Mutiaraumat.com -- Pernahkah sahabat merasa iri ketika membaca tulisan opini yang cas cis cus (kalimatnya mengalir dan argumentatif serta gaya bahasanya yang unik dan powerfull) diutarakan oleh penulisnya ? sehingga kadang terlintas dalam pikiran “kok bisa ya, dia menyampaikan dan menuliskan ini dan itu ?” 

Tentu akan menjadi dorongan tersendiri, bagi kita yang merasa tertantang untuk ikut andil menyampaikan gagasan lewat tulisan, untuk berusaha meningkatkan kapasitas dan kompetensi dengan belajar menulis opini terlebih untuk membela nilai-nilai Islam.

Belajar menulis opini ternyata gampang-gampang sulit lho, terlebih bagi kita yang baru mulai mencoba. Jika kita belajar secara otodidak, mungkin betul-betul akan terasa rumit dan sulit karena ternyata banyak juga ilmu dan wawasan yang perlu kita ketahui. Maka dari itu jika sahabat ingin lebih faham dan terampil dengan seabrek ilmu tulis menulis opini, kita perlu sekali bergabung dengan komunitas atau kelas pelatihan penulisan. 

Keterlibatan dalam komunitas atau kelas pelatihan bisa menjadi sarana dalam proses pembelajaran dan pendampingan, ajang bertukar pikiran, arena perlombaan untuk menuntaskan tugas penulisan dan wadah untuk menyemangati dan mengapresiasi rekan dalam mengirimkan naskah ke media.  

Berdasarkan pengalaman beberapa pekan ini tergabung dalam komunitas atau kelas pelatihan penulisan, yang diasuh oleh para praktisi dari kalangan jurnalis dan pegiat penulisan opini, terlebih untuk dakwah, ternyata ada banyak hal yang perlu diketahui dalam menulis opini, antara lain:

Pertama,  kiat-kiat agar kita semangat berdakwah lewat tulisan. Kedua, alasan mendasar mengapa kita harus menulis. Ketiga, pedoman penulisan jurnalistik. Keempat, tips agar opini kita sesuai dengan Bahasa Jurnalistik Indonesia. Kelima, tips agar tulisan enak dibaca dan menggugah. Keenam, tips mengurangi potensi kesalahpahaman pembaca. Ketujuh, tips membuat judul opini yang menarik. Kedelapan, tips menulis paragraf pertama dengan beragam gaya. Kesembilan, tips agar opini kita dimuat media massa. Kesepuluh, tips agar tulisan kita lolos tes mesin plagiat. Kesebelas, tips agar keunikan naskah opini kita di atas 85 persen, Keduabelas, tips merubah redaksi kalimat tanpa mengubah makna. Ketigabelas, tips kemampuan menulis ulang. Keempat belas, swasunting naskah opini sebelum dikirim ke media massa. Sepertinya masih banyak lagi materi-materi yang akan didapat lewat komunitas atau kelas pelatihan penulisan.

Beberapa penugasan yang ternyata juga menantang hingga mengesampingkan rasa malu (karena sebelumnya belum pernah menerbitkan tulisan opini) antara lain:

Pertama , kita diminta menulis opini dan mengunggahnya ke media sosial yang isinya niat dan azzam (kemauan kuat) untuk menulis dan kontribusi topik apa kedepan yang akan banyak digeluti dalam rangka untuk pengingat.

Kedua,  kita diminta untuk memperbaiki naskah sesuai dengan beberapa teori kemudian diunggah lagi ke media sosial.

Ketiga,  kita diminta untuk memperbaiki naskah sebelumnya sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah disampaikan dan mengirimkannya ke media massa sesuai dengan visi misi naskah kita dan kita diminta menulis ulang kembali dari naskah sebelumnya sesuai dengan materi pelatihan dengan hasil tes plagiat dan melakukan review atas tulisan kita sebelum dikirimkan ke media massa. 

Mungkin masih banyak lagi teknis-teknis penugasan yang akan dikerjakan dalam proses pelatihan terlebih dengan adanya sistem gugur ternyata cukup menambah tantangan tersendiri dalam kelas pelatihan atau komunitas. 

Bukan bermaksud mengecilkan semangat sahabat yang belajar menulis opini secara otodidak atau mandiri, karena mungkin banyak juga yang berhasil dan konsisten dalam menerbitkan naskah opini tapi banyak juga yang gagal. 

Oleh karenanya, bergabungnya kita dalam komunitas atau kelas pelatihan penulisan justru akan semakin menjaga dan menguatkan kita untuk konsisten dalam menulis. Komunitas penulisan betul-betul bisa menjadi media pengingat ketika lupa, pengoreksi ketika alpa dan penyemangat ketika putus asa.

Barangkali catatan ini bermanfaat untuk sahabat yang ingin berkontribusi juga berdakwah lewat tulisan, dalam rangka menasehati diri pribadi penulis juga sahabat sekalian, mari kita bersungguh-sungguh dalam proses belajar terlebih lagi dalam berdakwah mencerdaskan umat lewat tulisan, semoga menjadi amal jariyah dan bukti ketaatan kita dihadapan Allah Swt.

Mari kita lafadzkan do’a sebagaimana yang diajarkan Syekh Mutawalli As-Sya’rawi :

أَللّٰهُمَّ احْرِمْنِي لَذَّةَ مَعْصِيَتِكَ، وَارْزُقْنِي لَذَّةَ طَاعَتِكَ

Artinya, “Ya Allah, haramkan bagi diriku dari kelezatan maksiat kepada-Mu, dan berikanlah padaku kelezatan melakukan ketaatan kepada-Mu”.

Oleh: Haris Ardianto, S.T., M.Eng.
(Praktisi Pendidikan dan Aktivis Dakwah)

0 Komentar