Tabrakan Kereta Kembali Terjadi, Bukti Kegagalan Kapitalis dalam Menjamin Keamanan Rakyat

MutiaraUmat.com --Transportasi menjadi kebutuhan pokok masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, ke kota, pasar atau bepergian antar kota, pulang kampung dan sebagainya. Transportasi yang banyak digunakan saat ini adalah Kereta Api. Selain cepat, kenyamanan juga menjadi alasan masyarakat memilih transportasi ini.

 
Namun beberapa kali kecelakaan kereta kerap terjadi. Kini kecelakan itu kembali terjadi, Tabrakan KA Turangga dan kereta Commuter Line Bandung Raya terjadi di jalur tunggal antara Stasiun Haurpugur dan Stasiun Cicalengka, Jumat (05/01) pagi.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menegaskan kepatuhan melaksanakan aturan dan prosedur menjalankan keselamatan perjalanan kereta api menjadi faktor yang lebih penting menentukan untuk menghindari kecelakaan yang fatal.

Soerjanto  mengatakan bahwa jika prosedur dan kereta berfungsi dengan baik maka tidak ada masalah antara single track dan double track .
Hingga kini KNKT masih menyelediki penyebab insiden tabrakan kereta dengan melakukan wawancara kepada seluruh petugas pelayanan di Stasiun Cicalengka dan Haurpugur.

Pada jalur kecelakaan kereta tersebut, pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan, sebenarnya sedang menjalankan pembangunan jalur ganda kereta. Otoritas perhubungan menyebut proyek jalur baru kereta baru itu dilakukan untuk meningkatkan pelayanan terhadap pengguna kereta, yakni memangkas waktu tempuh. Namun aspek keselamatan tidak pernah disebut sebagai tujuan utama dalam pembangunan jalur ganda tersebut (BCC.com, Diperbarui 7 Januari 2024).

Tabrakan kereta api yang kembali terjadi, Ada banyak factor penyebab, apakah human error atau system error atau ada hal lain? Pasalnya tabrakan kereta juga pernah terjadi sebelumnya. Mitigasi menjadi penting untuk dilakukan. siapa yang bertanggungjawab atas kecelakaan ini dan bagaimana mitigasinya?

Kecelakaan kereta yang sering terjadi membuktikan bahwa tidak adanya jaminan keamanan dan keselamatan untuk para penumpang. Perlu adanya mitigasi kecelaakan yang cepat tanggap dan tidak bertele-tele. Bahkan peran negara sangat dibutuhkan dalam hal ini, sayangnya dalam sistem kapitalisme negara tidak menjalankan peran tersebut sepenuhnya.  Semua  diserahkan pada penanggung jawab KAI saja.

Jaminan keamanan dalam transportasi sangat dibutuhkan oleh rakyat.  Tentu upaya ini membutuhkan SDM yang amanah dan  memiliki kapabilitas, juga sistem yang aman.  Hal ini sering diabaikan dalam system kapitalisme mengingat  orientasinya lebih bersifat materi  dan keuntungan saja yang kadang mengabaikan keselamatan penumpang.

Hal ini bisa terjadi karena saat ini system yang diterapkan adalah system kapitalisme, system yang memisahkan agama dengan kehidupan, melakukan segala sesuatu atas dasar keuntungan. Sehingga penguasa tidak bisa amanah dalam menjalankan tanggung jawab dalam mengurus urusan rakyat, cenderung abai dan lempar tanggung jawab.

Kecelakaan kereta api yang terus berulang adalah kelalaian negara dalam menjaga keamanan penumpang, bahkan penyebab dan solusi belum bisa diketahui. Lambatnya penanganan masalah Karena SDM yang juga lemah, kurang berkualitas.

Keamanan penumpang hanya akan bisa terjamin ketika Negara mennerapkan system Islam bernama Khilafah Islamiyyah. Rasa tanggung jawab yang terbentuk dari proses mendekatkan diri kepada sang khaliq dan adanya ketakwaan dalam diri pemimpin membuatnya amanah dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagai pengurus urusan rakyat.

Islam sangat menghormati nyawa, sehingga akan optimal dalam menjamin keselamatan penumpang dalam berbagai kondisi termasuk dalam moda transportasi. Upaya ini juga akan dibarengi oleh SDM yang berkualitas daan fasilitas yang memadai.

Dalam Islam nyawa seseorang sangat berharga, sehingga menjamin keselamatan adaalah wajib:
dari Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan disahihkan Al-Albani).

Negara akan bertanggung jawab penuh dalam menyediakan system dan sarana transportasi yang aman  dan wajib mewujudkannya karena kelak akan diminta pertanggungjawaban baik di dunia maupun akhirat.[]

Oleh: Sarinem
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar