Satu Abad Khilafah Runtuh dan Optimisme Kebangkitannya


MutiaraUmat.com -- Saya ikut menganggukkan kepala terkait pernyataan Dr. Mohammad Iqbal Ahnaf, ”Beberapa kalangan mengklaim bahwa kembalinya khilafah akan menjadi kenyataan.” Meskipun tampaknya narasi tersebut berisi nada tendesius. Sebab, ia juga kebingungan, ”Sejauh ini, klaim-klaim kebangkitan khilafah tidak pernah merujuk pada satu bentuk atau model yang pasti. Apakah yang bangkit nanti akan seperti khilafah di zaman Dinasti Utsmaniyah atau seperti apa?”

Apa yang disampaikan beliau soal ”Masa depan, kiamat, dan kemungkinan kembalinya Khilafah adalah rahasia Allah SWT” juga benar. Oleh karena itu, sebagai seorang hamba yang beriman tugas kita adalah menyibukkan diri demi masa depan, mempersiapkan diri dengan amalan terbaik untuk menghadapi kematian, dan juga mendakwahkan bahwa khilafah adalah ajaran Islam yang tidak boleh dikriminalisasi. Karena memang kembalinya khilafah adalah keniscayaan, sama seperti kematian, masa depan, dan kiamat. Fokus saja pada area yang kita kuasai untuk mengimaninya dan mendakwahkannya.

Tentu jika tidak memahami secara mendalam sejarah kebangkitan Islam dan runtuhnya Khilafah, apalagi sudah terlalu nyaman mengambil isme Barat, akan sulit menggambarkan bagaimana mungkin khilafah akan tegak kembali? Model seperti apa yang akan diterapkan? Pertanyaan serupa mungkin juga pernah menyeruak di benak kita ketika belum pernah mengkaji Islam secara kaffah.

Jika kita mengaku beriman kepada Allah SWT dan Muhammad SAW, maka konsekuensi keimanan adalah percaya, yakin sepenuh hati, dan tidak memiliki celah keraguan sedikitpun. Kalangan yang mengklaim bahwa kembalinya khilafah adalah keniscayaan adalah orang-orang yang sudah tertanam akidah Islam dan keimanan yang kokoh. Mereka yakin 100% terhadap hadis-hadis Rasulullah SAW dan janji Allah SWT.

Terdapat dalam sebuah hadis mengenai lima fase zaman yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Bahwa saat ini kita berada di fase zaman ke empat, yaitu kekuasaan jabbariyah (diktator). Kemudian, fase ke lima adalah tegaknya kembali Khilafah yang mengikuti metode kenabian. Hal ini menjawab pertanyaan Dr. Mohammad Iqbal Ahnaf mengenai model seperti apa yang akan tegak kembali, yaitu khilafah dengan manhajnya Rasulullah SAW.

Maka, penegakannya mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Mulai dari pembentukan opini Islam melalui dakwah pemikiran dan politik, hingga metode penerapan Islam yang khas dalam bingkai negara. Tentunya, ini tidak akan tergambar di benak orang yang sudah terbiasa melihat kenyataan politik praktis demokrasi. Kembalinya Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian tidak boleh bergeser dari tahapan atau metode yang pernah dicontohkan Nabi SAW.

Metode tesebut berupa tasqif (pembinaan), tafa’ul ma’al ummah (berinteraksi dengan umat), dan tholabun nushrah (meminta pertolongan). Pembinaan yang tersistematis dan terarah akan membentuk kader dakwah yang mukhlis dan memiliki kepribadian Islam. Mereka bergerak atas dasar kesadaran yang terwujud dari mengkristalnya keimanan. Tentu berbeda dengan para kader yang tergabung dalam organisasi atau partai yang berdiri di asas kapitalisme, mereka akan bergerak karena dorongan manfaat.

Selanjutnya, jika seluruh umat mau diatur dengan Islam, merindukan tegaknya kembali Khilafah, maka umat sendiri yang akan meminta kepada penguasa untuk berhukum dengan syariat Islam. Biidznillah, para ahlul quwwah (penguasa atau militer) yang kelak akan memberikan nushrahnya. 

Sebagaimana Sa’ad bin Muadh (pemimpin Bani Aus) yang mendapatkan kehormatan dari Allah SWT karena menjadi penolong yang memberikan nushrahnya kepada Rasulullah SAW untuk mendirikan Daulah Islam pertama di Madinah. Pada saat kematiannya 70.000 malaikat hadir. Sekarang pertanyaannya, apakah Anda (para penguasa) mau menerima kehormatan sebagai pemberi nushrah bagi tegaknya Khilafah Rasyidah yang kedua? Apakah Anda (kaum muslim) memilih menjadi seperti kaum Anshar di Madinah yang memberikan pertolongan atau menjadi seperti kaum kafir Quraisy yang memusuhi dakwah dan mengkriminalisasi khilafah? []


Oleh: Putri Halimah, M.Si.
Aktivis Muslimah

0 Comments