Pentingnya Sosialisasi Fatwa MUI tentang Keharaman Perayaan Natal bagi Muslim


MutiaraUmat.com -- Cendekiawan Ustaz Ismail Yusanto menegaskan, soal pemakaian atribut natal oleh pegawai muslim sudah diperingatkan MUI bahwa itu tidak boleh.

"Pegangan fatwa itu penting, karena itu fatwa ini benar-benar mesti di share-share lagi supaya umat mengerti bahwa ada dasar yang dipakai oleh kita dalam menjelaskan atau bersikap mengajak untuk begini dan begitu kepada orang lain," ungkapnya dalam Live Fokus Reguler bertajuk Natal, Tauhid dan Toleransi di kanal YouTube UIY Official, Ahad (24/12/2023) lalu.

Saya punya pengalaman, saat makan di satu rumah makan, pegawainya pakai atribut. Saya tanya, keberatan nggak memakainya, dijawabnya iya. Saya tanya lagi, siapa yang menyuruh katanya manager. Kita panggil dan tanya, benar anda menyuruh ini, pegawai anda keberatan, dan itu nggak benar. Anda muslim tidak, yang dijawab muslim. Lalu kenapa begini, dijawabnya terima kasih nanti kami koreksi. Setelah itu nggak ada lagi atribut. Saya bilang ini apa, konsumen, pegawai, dan anda sendiri muslim, ini nggak perlu, sudah diperingatkan bahwa yang begini nggak boleh. Saya bilang begitu, kemudian diperbaiki. Akhirnya nggak ada lagi, ternyata bisa begitu. Kadang kita sudah diliputi rasa takut lebih dulu seolah-olah kita fopo. Fopo kemudian jadi insecure. Maka perlu diingatkan dalam Al Quran, “Fala taufuquhum tafauni” jangan takutnya pada mereka, tapi takutnya pada Allah, tambahnya.

Ustaz Ismail memaparkan, dari pengalaman dan penegasan kita yang menentukan. Kita tegas, mereka yang benar-benar menjunjung tinggi toleransi nggak apa-apa juga. Saya juga ada pengalaman tinggal di kiri saya pendeta. Kalau maghrib kita tilawah Qur’an, mereka misa maghrib sampai malam haleluya-haleluya. Kemudian kanan saya katholik, belakang saya china, kemungkinan juga kristen. Baru depannya seberang jalan orang Islam. Selama empat tahun saya tidak pernah mengucapkan natal. Kalau mereka pulang kampung titip kunci ke kita, pulang bawa oleh-oleh. Kita juga sebaliknya, terjalin dan nggak ada masalah di lingkungan tempat tinggal. Dalam lingkungan kerja, ketegasan pimpinan kantor, bahwa ini sudah difatwakan tidak boleh, harom. Fatwa tegas sekali, sejak tahun 80 an di masa MUI dipimpin oleh Buya Hamka. Dan berlaku sampai ini hari. 

Betlehem ada juga orang kristen, juga merayakan. Kalau bicara tentang kehidupan Islam, pemimpin, khalifah. Tugas atau bagian terpenting seorang khalifah, al imam atau ulil amri adalah menjaga aqidah umat. Ada pemerintahan atau negara dalam Islam adalah untuk itu. Maka pasti tidak dibolehkan hal yang dinilai merusak aqidah umat. Pasti akan diatur sedemikian rupa. Mereka boleh merayakan tapi di lingkungan dan tempat mereka. Tidak boleh secara terbuka karena bertentangan dengan aqidah islam, jadi toleransi sangat jelas, tuturnya.

Ustaz Ismail.melanjutkan, toleransi sangat dianjurkan, maka sampai 700 tahun disebut “Spanyol in three religion”. Spanyol dalam tiga agama. Orang Yahudi oleh Karen Armstrong disebut mereka enjoy there golden age under Islam in Andalusia. Mereka menikmati abad keemasan di bawah Islam di Andalusia,.700 tahun. Umat Islam di bawah cengkeraman zionis, nggak karuan, padahal mereka dulu merasakan jaman keemasannya di bawah Islam.

Ustaz Ismail menjelaskan, pertama, kita harus paham dan yakin bahwa kalau ada harta paling berharga tak lain adalah tauhid. Karena tauhid yang menentukan posisi kita di hadapan Allah di akhirat kelak. Tinggi rendahnya kita ditentukan sejauh mana kita punya tauhid, maka harus di jaga. Kedua, kita harus yakin bahwa Allah Swt “khairukum khairurrazikiin” tidak boleh ada keraguan sedikitpun. Allah Sang Pemberi Rizki yang paling baik, jika harus mempertahankan tauhid, tidak boleh takut dan khawatir akan tertutup pintu rezeki. Tidak. Justru kalau mau membela tauhid, keimanan pada Allah, yakinlah pada Allah yang memberikan jalan keluar atas persoalan yang kita hadapi termasuk rizki. Ketiga, bersikap benar dalam pekerjaan atau bekerja. Benar, sehari-hari benar, terpercaya, quality kerja bagus, dalam hal ini bersikap tegas. Insyaallah tidak akan terjadi apapun, jika sampai terjadi menunjukkan kantor itu nggak bener. Sebenarnya ini nggak ada hubungannya dengan pekerjaan?  

Dalam sistem sekuler selalu dikatakan bahwa soal keyakinan adalah soal privat, nggak boleh dibawa ke urusan pekerjaan. Kalau kantor profesional malah justru nggak masalah. No problem ini tidak sesuai dengan keyakinan anda, tidak apa-apa, akan begitu. Kita yang kadang dibayangi ketakutan tidak perlu. Sering disebut istilah fopo, “fear other person opinion”. Takut pada opini orang. Penjelasan yang sudah disampaikan itu penting menjadi bekal supaya kita punya pendirian yang tegas dengan nilai agama kita, pungkasnya.[] Tari Handrianingsih

0 Komentar