Pendidikan Islam, Wujudkan Generasi Emas untuk Dunia


Mutiaraumat.com -- Indonesia mengalami bonus demografi sejak tahun 2015 dengan periode puncaknya yang diperkirakan terjadi pada periode 2020- 2035. Dalam bonus demografi, jumlah masyarakat usia produktif lebih banyak, dan mereka memiliki kesempatan kerja serta kesempatan untuk menjadi produktif.

Proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar jika dibandingkan dengan usia nonproduktif (65 tahun ke atas) dengan proporsi lebih dari 60% dari total jumlah penduduk Indonesia (kominfo.go.id).

Bonus demografi ini seharusnya bisa memberi manfaat diantaranya menaikkan produk domestik bruto (PDB), meningkatkan tabungan masyarakat dan sosial, meringankan beban hidup masyarakat, dan membentuk generasi emas. Generasi emas ini akan menjadi penerus bangsa yang memiliki kreativitas dan mampu membangun negara dari berbagai sektor yang tersedia. 

Ironisnya, generasi yang ada saat ini justru jauh dari kondisi yang diharapkan. Kekerasan seksual, tawuran, narkoba, pergaulan bebas, perundungan, dan banyak problem sosial lain dialami generasi saat ini.

Lantas, bagaimana memanfaatkan bonus demografi agar memberi sumbangsih bagi kemajuan negeri ini? Bahkan bisa terwujud generasi emas untuk Indonesia dan Dunia.
Sesungguhnya, SDM yang mumpuni untuk mewujudkan Negara terdepan di kancah internasional, berawal dari sistem Pendidikan yang berkualitas. 

Hal ini telah dibuktikan selama berabad-abad oleh Negara Khilafah Islamiyah yang menerapkan sistem Pendidikan Islam. Di era peradaban Islam, lahir generasi emas para peletak dasar keilmuan seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Khaldun, Jabbir Al-Hayyan, Al-Farabi, Al-Kindi, Al-Battani dan lain-lain. 

Di kalangan Perempuan pun banyak ilmuwan Muslimah yang berkiprah dalam memajukan peradaban Islam. Hasil penelitian Dr. Mohammad Akram Nadwi, peneliti di Oxford Centre for Islamic Studies, penulis 25 buku. Ia telah memulai proyek penelitian tentang ulama hadis perempuan. Awalnya ia menduga hanya menemukan 20 atau 30 ulama perempuan untuk dituliskan dalam bukunya.

Ternyata setelah 15 tahun penelitian, ia menemukan lebih dari 8000 ulama perempuan dan kamus biografinya sudah mencapai 40 volume. Dr. Akram yakin angka ini belum menunjukkan angka sesungguhnya jumlah ulama perempuan sepanjang sejarah Islam. Akhirnya Dr. Akram menulis buku Al-Muhaddithat : The Women Scholars in Islam yang diterbitkan di London oleh Oxford Interface Publications, 2007 (researchgate.net).

Buku ini menunjukkan bukti gamblang bahwa begitu banyak muslimah berdaya yang telah berpartisipasi dalam menciptakan warisan kebudayaan Islam. 
Begitu maju dan berkualitasnya sistem Pendidikan Islam, banyak orang asing yang menyekolahkan putra-putri mereka di Negara Khilafah. Salah satunya Raja George II, Raja Inggris, Swedia dan Norwegia (binbaz.or,id).

Lantas, seperti apa gambaran Pendidikan dalam Islam, yang mampu mewujudkan generasi emas untuk bangsa dan Dunia? Pendidikan dalam Islam memadukan keimanan dengan ilmu kehidupan sehingga memiliki pengaruh besar dalam setiap amal perbuatan. Sistem pendidikan Islam mempunyai visi yang jelas, yaitu mencetak generasi dengan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam (syakhsiyah Islamiyah).

Dengan kurikulum yang berdasarkan akidah Islam, tidak mustahil lahir generasi yang tinggi akhlaknya, cerdas akalnya, dan kuat imannya. Didukung dengan ekonomi Islam yang menyejahterakan dan kebijakan yang bersumber pada syariat Islam, seluruh elemen masyarakat dapat merasakan hak pendidikan secara gratis.

Hal ini karena Negara juga menerapkan sistem ekonomi Islam yang akan memastikan kekayaan milik umum dikelola negara untuk kemaslahatan umum, termasuk pendidikan. Juga membuka lapangan kerja sehingga para kepala keluarga mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan begitu, ibu bisa fokus untuk mendidik anak-anaknya.

Selanjutnya negara menerapkan kebijakan di bidang media, dengan melakukan tindakan preventif tersebarnya informasi yang dapat merusak generasi serta melemahkan keimanan.

Negara berperan dalam menjamin hak pendidikan, menyusun kurikulum berbasis akidah Islam, dan menciptakan lingkungan dengan ketakwaan komunal melalui sistem pergaulan Islam. Tak kalah penting, orang tua harus memiliki bekal pemahaman Islam secara kaffah agar tidak keliru dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya.

Dengan begitu, anak-anak tumbuh dalam suasana kondusif dan terbentuk kepribadian Islam yang unik dan khas. Demikianlah, sistem Pendidikan dalam Islam akan terwujud jika Negara menerapkan sistem Islam secara menyeluruh dalam segenap aspek kehidupan. Saatnya untuk meninggalkan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, beralih ke penerapan sistem Islam kaffah dalam bingkai Khilafah. Wallahu a’lam bishshowaab.[]

Oleh: Noor Hidayah
(Aktivis Muslimah)

0 Comments