Bagaimana Kondisi Kaum Muslim di Gaza Memasuki 100 Hari Perang Melawan Penjajah?


MutiaraUmat.com -- Palestina dijajah itu tidak hanya 100 hari, tetapi mereka dijajah sejak 1947 oleh Israel yang dilahirkan oleh PBB yang kongkalikong dengan Amerika Serikat dan Inggris. Inggris bisa menguasai Palestina karena telah berhasil merebutnya dari Khilafah Utsmaniyah pada 1917 dan Khilafah Utsmaniyah diruntuhkan pula pada 1924. Keruntuhan Khilafah Utsmaniyah menjadi genderang kemenangan Inggris merebut Palestina dan mendirikan Israel pada tahun 1947. Di situlah penjajahan entitas Yahudi dilakukan secara masif dan terstruktur didukung penuh oleh Inggris dan Amerika Serikat. PBB pun bagaikan polisi tidur yang tidak memiliki kekuatan untuk menyelesaikan penjajahan di sana.

Tepat, 7 Oktober 2023, milisi Hamas melakukan perlawanan terhadap entitas Yahudi di Gaza. Ahad, 14 Januari 2024 lalu Juru Bicara sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, Abu Ubaida, menyampaikan pidatonya. Ada poin-poin menarik dari pidato tersebut yang perlu ditanggapi. Pertama, pertemuan di Gaza oleh milisi Hamas adalah pertempuran bersejarah. Kita dapat melihat, mereka hanya memiliki pelindung Allah SWT dan musuhnya dengan segala kekuatan di dunia, tetapi rapuh karena jiwa-jiwa kepengecutan entitas Yahudi di sana.

Kedua, perlawanan ini untuk membalas entitas Yahudi yang telah seratus tahun lebih menjajah, membantai kaum Muslim di Palestina, menguasai kiblat pertama kaum Muslim, dan kebrutalan mereka selama ini. Sampai di sini kita menyadari sudah seratus tahun lebih kaum Muslim di Palestina mendapatkan kezaliman yang tersistematis akibat ketiadaan perisai Khilafah Islamiah. Ratusan tahun mereka melawan penjajahan entitas Yahudi dan tidak ada negeri-negeri kaum Muslim yang berani memberikan pertolongan secara militer kepada mereka.

Ketiga, Abu Ubaidah memahami keadilan di dunia tercoreng. Kita saksikan betapa zalim dunia ini diatur dengan kapitalisme sekuler. Penjajahan di mana-mana, kaum Muslim di Palestina dijajah secara fisik, Muslim Rohingya diusir dari bumi kelahirannya, bertahun-tahun hidup di kapal dan terlunta-lunta dalam status pengungsi. Muslim Uighur, Khasmir, dan sebagainya juga mendapatkan kezaliman dari rezim kafir harbi fi'lan. Di sisi lain, umat Islam di Indonesia terjajah dengan dijejali narasi moderasi beragama yang membuat mereka terlepas akidahnya. 

Keempat, Abu Ubaidah juga menyampaikan kepengecutan tentara Israel dan kekalahan mereka secara mental begitu nyata. Kita dapat melihat, bagaimana mungkin, orang yang cinta dunia dan takut mati berperang melawan singa-singa Allah yang merindukan syahid dalam jiwanya? Wajar saja mental entitas Yahudi kalah dan jiwa pengecut dan munafik hinggap dalam diri mereka. 

Kelima, Abu Ubaidah menyebutkan kerugian yang dihadapi entitas Yahudi. 1000 kendaraan Yahudi mampu dimusnahkan. Akibat serangan ini, banyak masjid dibom, rumah sakit, sekolah, dan memang entitas Yahudi membuat azan dan shalat terhenti di Gaza karena pengeboman masjid di sana. Andai saja Israel tidak didukung Amerika dan sekutunya, seharusnya mereka sudah kalah karena bangkrut dalam perang ini. Namun, mereka masih ada karena sokongan negara penjajah Amerika dan sekutunya.

100 tahun lebih dibayar dengan 100 hari ini, hanya saja perlawanan terhadap entitas Yahudi tidak boleh berhenti. Mereka terjajah ratusan tahun karena kehilangan perisai kaum Muslim yaitu Khilafah Islamiah. Hal ini penting disuarakan dan didengungkan supaya umat Islam mau berjuang dan bersatu mengembalikan tegaknya Khilafah Islamiah di bumi ini. Karena tidak ada solusi lain kecuali ini. Inilah jihad yang nyata yang bisa kita lakukan, menyeru penguasa muslim untuk menolong kaum Muslim di Gaza dengan menegakkan Khilafah Islamiah.[]

Ika Mawarningtyas
Direktur Mutiara Umat Institute 

0 Comments