UIY: Inilah Faktor Pemicu Bunuh Diri

Mutiara umat.com -- Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto beberkan dua faktor pemicu bunuh diri. 

"Orang bunuh diri itu pasti dia pada satu kesimpulan bahwa jika dia punya masalah tidak ada jalan lagi untuk mencari solusi. Artinya sering disebut sebagai putus harapan sudah _no hope._ Mengapa akhirnya mereka mengambil kesimpulan seperti itu? Saya kira, kita bisa melihat setidaknya ada dua pemicu atau dua faktor," ujarnya di _YouTube UIY Official: Orang Tua Khawatir, Bunuh Diri Marak,_ Selasa (05/12/2023).

_Pertama,_ UIY sapaan akrabnya menilai, faktor internal seperti pembentukan mental pada diri anak. Sehingga memiliki ketahanan mental di dalam menghadapi penderitaan, ketahanan mental di dalam mengalami kesulitan, menghadapi penderitaan dan menjalani ikhtiar dalam berbagai usaha. 

_"Kedua,_ faktor-faktor eksternal yang ikut berpengaruh terhadap ketahanan mental dari yang bersangkutan," ungkapnya.

Menurutnya, kehidupan yang serba materialistik, hedonistik kemudian pencitraan yang begitu rupa yang mereka terima melalui media khususnya media sosial sangat massif.

"Seperti citra tentang orang yang sukses, bagaimana kehidupannya, bagaimana outfitnya, bagaimana liburannya, bagaimana makanannya, bagaimana rumahnya, bagaimana keluarganya," terang UIY.

Ustaz Ismail menyampaikan, sesuatu yang pasti saja dalam media sosial itu digambarkan dengan sesuatu yang serba enak. Karena, tidak akan mungkin media sosial itu menggambarkan sesuatu yang serba susah. Sebab,  di media sosial itu orang mencitrakan dirinya. Walaupun ada media sosial sebagai tempat curhat tetapi itu sedikit.

"Nah, ini akan memberikan pengaruh kepada dirinya, bagaimana citra dirinya itu berpengaruh terhadap harapan-harapan dia di masa mendatang," tegas dia.

Padahal, UIY menyampaikan, kehidupan riil mereka itu tidaklah seperti itu. Sehingga, ada semacam gap antara realitas dengan keinginan atau harapannya.

"Sebenarnya itu bukan suatu soal. Karena siapapun pasti mengalami gap itu. Ketika seseorang mempunyai cita-cita pasti dia akan menghadapi gap itu. Semakin tinggi cita-cita semakin tinggi gap itu. Yang menjadi masalah itu, apakah dia punya cara atau jalan untuk mencapai cita-cita itu? Jika dia punya cara, punya jalan maka gap itu pasti lambat laun makin berkurang sampai cita-cita itu tercapai," bebernya.

Tetapi jika dia tidak punya, tutup UIY, maka gap itu akan terus menggantung dan berpengaruh terhadap dia seolah-olah bahwa kehidupan itu tidak mungkin berubah, dia tidak akan mungkin mencapai apa yang dia inginkan.[] Heni

0 Comments