Stunting di Tengah Melimpahnya SDA

MutiaraUmat.com -- Stunting salah satu masalah penting. Data survei status gizi nasional (SSGI) tahun 2022 mencatat prevalensi stunting di Indonesia 21,6%, lebih tinggi dari standar WHO sebesar 20%. Angka ini diharapkan turun menjadi 14 persen pada 2024. Untuk mendukung rencana ini dibuat Perpres No 72 Tahun 2021, meski demikian stunting masih menjadi prioritas masalah.  Anggota Komisi IX DPR RI, Rahmad Handoyo mengatakan penanganan stunting menggunakan pendekatan proyek, dimana program terlaksana, namun hasilnya nihil. Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Hasbullah Thabrany, mengungkapkan ada indikasi penyelewengan dana penanganan stunting di tingkat daerah (www.beritasatu.com, 1/12/2023).

Kapitalisme Akar Masalah

Ironi, ditengah melimpahnya SDA, masih ada rakyat yang kelaparan, bahkan tidak sedikit anak yang mengalami stunting (gizi buruk). Syekh Taqiyyudinan an Nabhani di kitab Nizam Islam menulis penerapan sistem kapitalisme akan  menyengsarakan manusia. 

Kapitalisme tegak diatas akidah sekuler, memberi kebebasan pada manusia, diantaranya kebebasan kepemilikan. Individu diberi kebebasan untuk menguasai dan mengeksploitasi SDA. Negara berfungsi sebagai regulator, rakyat dibiarkan bersaing bebas, hingga berlaku hukum rimba, dimana yang kuat akan menguasai yang lemah. Dipastikan, pemilik modal akan memenangkan pertarungan dengan menguasai sebagian besar SDA. Rakyat hanya menikmati remahnya.

 Indikator moneter pertumbuhan ekonomi diukur dari total pendapatan nasional dibagi jumlah penduduk. Parameter yang manipulatif sebab mengabaikan distribusi pendapatan dan kesejahteraan. Faktanya, sebagian besar kapital dikuasai segelintir pemilik modal. Praktik monopoli, penimbunan maupun kartel ekonomi terjadi, harga kebutuhan tidak terkendali, rakyat kian terbebani. Meski pertumbuhan ekonomi tinggi, tidak sedikit rakyat terhimpit kemiskinan, kesulitan memenuhi kebutuhan pokok termasuk kebutuhan gizi anak. Wajar, stunting senantiasa menjadi masalah dalam sistem kapitalisme.

Ditambah dengan individu penguasa dalam sistem sekuler mengejar manfaat semata, bukan halal dan haram. Individu yang berani mengambil hak rakyat demi keuntungan pribadi dan kroni. Sebagai contoh ditemukan dana stunting untuk keperluan pejabat dan menu makanan dibawah standar.

 Islam Menjamin Kebutuhan Individu

Islam agama paripurna mengatur semua aspek kehidupan termasuk politik, yakni pengaturan urusan umat. Khalifah adalah penguasa yang diserahi wewenang untuk mengurus kemaslahatan rakyat dan akan diminta pertanggungjawaban Allah SWT pada hari kiamat.  Nabi SAW bersabda, artinya,

"Imam (khalifah) adalah ra'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya" (HR al-Bukhari).

Khalifah akan memastikan setiap individu terpenuhi kebutuhan pokoknya. Rasa takut pada Allah dan wasiat Nabi tentang amanah pendorong utamanya. Seorang pemimpin tidak akan mencium bau surga, ketika ada rakyatnya yang kelaparan. Kesejahteraan bayipun diperhatikan seperti yang dicontohkan Umar bin Khattab. Awalnya beliau memberi tunjanga untuk anak yang sudah disapih. Kebijakan ini membuat para ibu menyapih bayinya lebih cepat agar mendapat santunan. Hingga suatu malam Umar melihat realita tersebut. Beliau ketakutan, terbersit dihati, sudah berapa bayi yang engkau bunuh wahai Umar. Akhirnya kebijakan diubah, santunan diberikan sejak bayi lahir.

Khilafah mampu mensejahterakan rakyat karena SDA milik rakyat, haram diserahkan pada swasta dan asing. Negara wajib mengelola sendiri, hasilnya dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Negara menjamin lelaki untuk bisa mengakses pekerjaan hingga bisa memberi nafkah keluarganya.

Khalifah akan membina ketakwaan tiap individu, sehingga menjadikan halal dan haram sebagai pedoman. Rasa takwa ini mendorong baik rakyat atau penguasa tidak berani mengambil yang bukan haknya, seperti korupsi. Masyarakat juga peka untuk beramar makruf nahi munkar.

Kesejahteraan rakyat akan terwujud hanya ketika negara menerapkan Islam kaffah dalam bingkai khilafah. Masalah stunting akan mudah diselesaikan dengan Islam.

Oleh: Ida Nurchayati
Aktivis Muslimah

0 Comments