Pertumbuhan Ekonomi Kebumen Tertinggi Se-Jateng, Hanya Angka Semata?


MutiaraUmat.com -- Naiknya angka pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kebumen yang naik hingga 5.74 persen dan menurunnya angka kemiskinan dianggap sebagai pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Jawa Tengah. Menurut Bupati Kebumen Arif Sugiyanto angka pertumbuhan ekonomi ini didapat dari banyaknya gelaran event yang diadakan di beberapa titik wilayah Kabupaten Kebumen, salah satunya penyelenggaran KIE (Kebumen International Expo) beberapa waktu lalu dan event-event lain. (25/11)

Namun demikian, hal ini patut menjadi sorotan sebab angka pertumbuhan yang diklaim sebagai pertumbuhan ekonomi tertinggi se-jateng justru berbanding terbalik dengan fakta bahwa daerah Kabupaten Kebumen masih menyandang kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi pun masih menunjukkan ketidakmerataan pendapatan di tiap-tiap daerah di Kebumen sekalipun bupati telah menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan mengadakan event-event yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat.

Ketika realitas perekonomian masyarakat demikian pahit, angka pertumbuhan ekonomi hanyalah pemanis semata, tanpa realitas yang nyata. Padahal yang dibutuhkan masyarakat hari ini adalah realitas bukan sekedar angka cantik di atas kertas. Pertumbuhan angka ekonomi dalam sistem kapitalisme memang menjadi standar kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Namun pada kenyataannya pertumbuhan, kemakmuran, serta kesejahteraan dalam sistem ekonomi kapitalis tidak pernah memberikan realitas kemakmuran yang nyata. 

Data pertumbuhan ekonomi hanyalah angka kesejahteraan semu dalam sistem kapitalisme sebab hanya dihitung dari rata-rata dari Produk Domestik Bruto (PDB) dimana pertumbuhan ekonomi hanya dilihat dari perluasan barang dan jasa yang dihasilkan selama periode tertentu bukan kesejahteraan individu per individu. Belum lagi kesejahteraan dalam sistem kapitalisme hanya semakin menciptakan kesenjangan si kaya dan si miskin.

Berbeda dengan pandangan Islam yang memandang bahwa persoalan ekonomi tidak diletakan pada angka pertumbuhan ekonominya. Sebab pertumbuhan adalah keniscayaan yang pasti akan dilakukan oleh manusia sebab Allah telah memberikan kekayaan yang berlimpah di muka bumi untuk dimanfaatkan oleh manusia. 

Persoalan ekonomi dalam pandangan Islam justru diletakkan pada aspek distribusi. Politik ekonomi islam yang berbasis distribusi akan menjamin terealisasinya pemenuhan semua kebutuhan primer bagi setiap warga negara secara menyeluruh termasuk kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai dengan kadar kesanggupan sebagai individu yang hidup dalam sebuah masyarakat yang mempunyai nilai-nilai kehidupan yang khas yaitu dengan kehidupan masyarakat dengan aturan halal dan haram. 

Selain itu kemakmuran ekonomi dalam Islam adalah kemakmuran per individu bukan kemakmuran rata-rata dari negara. Islam juga memandang manusia sebagai orang yang terikat dengan sesamanya dalam interaksi yang akan diatur oleh negara dengan mekanisme tertentu. Dimulai dari negara yang berkewajiban untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi laki-laki untuk mencari nafkah, mengatur kepemilikan sehingga kepemilikan negara maupun umum tidak dikapitalisasi, negara juga akan menyediakan akses pendidikan untuk menghasilkan SDM yang berkualitas.

Fenomena hukum zakat dalam Islam bisa menjadi indikator kemakmuran suatu negara sekaligus parameter distribusi kekayaan dengan membandingkan antara jumlah mustahiq (penerima zakat) dan muzakky (yang wajib berzakat). Jika dalam suatu negara terlalu banyak mustahiq maka bisa dikatakan kemakmuran individu bermasalah namun jika tidak ada mustahik seperti pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz maka bisa dikatakan negara dalam keadaan makmur secara nyata.

Dengan demikian akan terwujud masyarakat yang sejahtera secara merata bukan hanya sebatas angka pertumbuhan ekonomi semata. Tentu saja hal ini hanya dapat dicapai tatkala sistem yang menaungi negara adalah sistem khilafah yang menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan yang sudah terbukti selama berabad-abad lamanya. Wallahu a'lam. []


Oleh: Lulita Rima Fatimah, A.Md.Kom.
Aktivis Muslimah

0 Comments