Peran Ibu sebagai Pendidik Mulai Tergerus


MutiaraUmat.com. com -- Hari Ibu Nasional diperingati pada 22 Desember setiap tahunnya. Peringatan tahunan ini sudah ada sejak 1928 dan mengusung tema yang berbeda-beda.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA) telah merilis tema Hari Ibu 2023 yaitu 'Perempuan Berdaya, Indonesia Maju'. (CNN Indonesia, 17/13/2023) 

Ibu memiliki peran penting bagi kehidupan. Ibu adalah madrasah paling utama dalam pembentukan generasi anak. Ibu juga sangat berperan sebagai figur sentral yang dicontoh dan diteladani dalam kepribadiannya yang mencakup pola pikir dan pola sikap. Peran generasi sebagai penerus bangsa menjadikan sosok ibu sangat penting peranannya. Pasalnya, majunya sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya dalam hal ini generasi muda sebagai generasi penerus. 

Peran ibu sebagai pendidik generasi mulai tergerus. Ibu dianggap telah memenuhi hak-hak anaknya ketika telah terpenuhi aspek materi pada anak. Bukan tanpa alasan, penerapan sistem kapitalisme membuat kehidupan keluarga terhimpit, harga kebutuhan pokok mahal, pendidikan mahal, biaya kesehatan mahal, ditambah pajak yang semakin mencekik rakyat. Mengandalkan suami bekerja seorang diri untuk memenuhi kebutuhan hidup dianggap mustahil. Akibatnya kewajiban seorang ibu mengasuh dan mendidik anak hingga memahami makna hidup yang benar menjadi terabaikan. Alhasil, berbagai persoalan yang menimpa generasi semakin tidak terkendali, seperti maraknya seks bebas, narkoba, mental illness, tawuran, dan bullying hingga remaja sebagai pelaku kriminalitas. 

Mirisnya, moral remaja diperparah dengan regulasi merupakan produk sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme. Ibu dipandang berdaya ketika mampu menghasilkan materi atau uang dan terlibat aktif dalam politik praktis. Kondisi ini menjadi cerminan fakta bahwa peradaban sekuler kapitalistik memberi ruang hidup yang buruk bagi perempuan. Kaum ibu mengalami pembajakan peran, sebab seharusnya ibu yang adalah pendidik generasi tergerus akibat sistem yang diterapkan saat ini. 

Kondisi ini tidak bisa lepas dari peran negara. Negara lepas tangan menjaga kehormatan, kemuliaan, dan jaminan kesejahteraan perempuan sehingga membiarkan perempuan terjebak dalam pusaran ekonomi kapitalistik. Oleh karena itu, perlu adanya revitalisasi peran ibu sebagai pendidik generasi dan mengembalikan peran ibu sesuai dengan perintah Allah SWT demi mewujudkan generasi berkepribadian Mulia. Peran ibu yang hakiki tidak akan pernah terwujud dalam sistem kapitalis sekuler. Kembalinya fitrah ibu dan peran mulianya sebagai pendidik generasi hanya akan terwujud dalam penerapan aturan Islam secara kaffah dibawah naungan sistem pemerintahan Islam. 

Dalam Islam, seorang ibu memiliki tugas mulia yaitu sebagai madrasatul 'ula (sekolah pertama) dan utama bagi anak-anaknya. Seorang ibu harus membentuk tujuan hidup, visi hidup, dan pedoman hidup anak dengan mengarahkannya kepada Islam. Islam mewajibkan perempuan menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya. Perempuan harus menjalankan perannya sebagai bagian dari masyarakat karena tugas utama perempuan adalah Ummun wa Rabbatul Bayt (ibu dan pengatur rumah tangga). Seorang ibu harus memiliki keimanan dan ketakwaan yang tinggi, sehingga ibu dapat membina anak-anaknya agar memiliki akidah yang kokoh dan dapat mematahkan anaknya agar memiliki tujuan hidup dan senantiasa berpegang pada tali agama Allah serta mengajarkan anaknya taat kepada aturan Allah secara sempurna. 

Terlebih lagi, seorang ibu haris mendidik anaknya menjadi pejuang-pejuang Islam karena mereka adalah aset perjuangan bangsa. Oleh karena itu dibutuhkan peran negara yang akan mengarahkan terwujudnya peran ibu sebagai pendidik secara optimal. Negara Islam akan menjamin kesejahteraan masyarakatnya, sehingga kaum ibu tidak perlu sibuk di luar rumah untuk membantu perekonomian keluarga. Hanya sistem pemerintahan Islam yang mampu mengembalikan peran utama dan mulia seorang ibu sebagai generasi pendidik. 

Wallahu'alam bish shawwab

Oleh: Yani Rusliani
Aktivis Muslimah 


0 Komentar