Pemimpin yang Baik Tentu tidak Akan Menyusahkan Rakyat


MutiaraUmat.com -- Direktur Pamong Institute Drs. Wahyudi Al Maroky, M.Si., mengatakan bahwa seorang pemimpin yang baik, tentu dia tidak akan menyusahkan rakyatnya. 

"Ukurannya sederhana, pemimpin yang berkasih sayang (baik) kepada yang dipimpinnya dalam hal ini rakyat, tentu dia tidak akan menyusahkan rakyatnya," tuturnya dalam Gawat! Memilih Pemimpin Zalim, Bisa Tersentuh Api Neraka? Di kanal YouTube Masjid Al-Hidayah Tanah Merah, Selasa (12/12/2023). 

Ia mencontohkan, jika pemerintah akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), pasti akan berpikir dulu, apakah akan membuat rakyat bahagia atau malah menyusahkannya. Begitupun jika mau menarik pajak, mikir terlebih dulu terkait dampaknya buat rakyat, apakah semakin senang atau tidak. 

"Itu kalau ciri-ciri yang menyayangi rakyat kalau tidak, lebih mirip-mirip yang ada naikkan saja pajak, retribusi naik, semua dinaikkan," ujarnya. 

Lebih lanjut, Wahyudi mejelaskan, terkait dengan pemimpin adil, dan memang itu salah satu syarat kepemimpinan, dalam hal ini adalah adil artinya dia menempatkan sesuatu pada porsinya. Kalau rakyat mustinya dilayani, kalau yang pejabat mustinya dibebani yang melayani. Negara mestinya juga melayani rakyat, bukan hanya memajaki rakyat. Penguasa (pemimpin) yang punya aparat hukum mestinya untuk melindungi rakyat, bukan untuk menakut-nakutinya. Karena fakta sekarang, banyak  undang-undang yang menakut-nakuti rakyat, dan aparat yang mengancam-ancam bukan melindungi. 

"Kalau Rasullullah SAW sudah memberikan warning sekian abad lalu dan tentu ucapan Nabi ini bukan ucapan seperti politisi sekarang kosong, janji politik yang palsu. Ucapan Nabi itu selalu benar dan terbukti setelahnya, jadi kalau dia bilang bahwa di akhirat berbahaya bagi pemimpin-pemimpin yang tidak adil, tidak penuh kasih sayang, pasti benar demikian," ungkapnya. 

Namun, lanjut Wahyudi, dalam negara sistem kapitalis, yang mengatur kepentingan adalah kapitalis, kaum pebisnis. Sehingga yang akan mendapatkan pelayanan baik adalah orang yang memberikan investasi politik paling besar, terutama para oligarki. Indonesia yang sebenarnya diklaim sebagai negara Pancasila, tetapi ternyata praktiknya, praktik kapitalis yang dikendalikan oleh oligarki. Jadi kepemimpinan yang muncul kepemimpinan oligarki. 

"Oligarki itu, ada dua, yaitu oligarki ekonomi yang berkuasa terhadap masalah keuangan pendanaan dan sebagainya yaitu para pengusaha. Kemudian oligarki politik, yaitu orang-orang yang sudah menjabat. Dalam sistem demokrasi dua oligarki ini biasanya menyatu, dia pengusaha sekaligus penguasa, dia oligarki ekonomi sekaligus juga oligarki politik. Seorang pengusaha besar sekaligus pemimpin partai, seorang pemimpin partai sekaligus pejabat negara kan ada pemimpin partai jadi menteri, walaupun ada petugas partai jadi menteri tapi rata-rata begitu, nah itu terjadi dalam negara kapitalis," paparnya. 

Tip Memilih Pemimpin 

Wahyudi memberikan tips untuk memilih pemimpin. "Pertama dari niatnya. Dari sosoknya dulu dia pro kepada Islam, pro dulu kepada syariat, pro dulu kepada hukum-hukum Islam kemudian ada kemauan dia niat untuk menerapkan itu," jelasnya. 

Kemudian kedua, konsepnya. "Jangan-jangan keinginannya beda dengan konsep yang diterapkan, kosepnya dia mengatakan yang penting Islami, inikan repot kan banyak negara yang mengeklaim negara Islam, tetapi praktiknya tidak Islam, semua mustinya kalau dalam konsep Islam harusnya kaffah.

'Kaffah itu praktiknya tidak sekadar mencomot sebagian hukum Islam atau atauran Islam, lalu mengatakan ini sudah Islam. Oh, rakyat kita boleh shalat berarti sudah Islam, rakyat kita boleh pergi haji, sudah Islam. Kalau cuma itu ukurannya dari zaman Belanda juga sudah boleh shalat dan pergi haji," sambungnya. 

Wahyudi mengingatkan kepada publik bahwa kalau memilih ditanya dulu kira-kira mendukung atau tidak, karena tidak boleh juga masyarakat memilih atau jangankan memilih mendukung saja harus hati-hati karena salah saja mendukung itu berakibat bukan hanya di dunia tetapi di akhirat.

"Kalau di dunia salah memilih pemimpin bisa sengsara lima tahun karena mungkin kebijakan buruk. Namun, jika di akhirat salah memilih pemimpin bisa sengsara di neraka bertahun-tahun sepanjang masa. Padahal Allah mengingatkan kita di surat Hud : 112 disebutkan dan jangan kamu cenderung kepada orang yang zalim, zalim di sini jelas posisi orang yang tidak menerapkan hukum Allah itu zalim," terangnya 

Jadi katanya, jangan hanya dalam hati condong mengatakan ‘wah ini bagus, ini top, itu bisa tersentuh api neraka, padahal belum sampai mendukung. Sementara banyak di antara kita yang tidak tahu. Mungkin bukan hanya condong sampai mendukung, padahal itu kezaliman. 

"Itulah yang harusnya diukur zalim, di situ sederhananya yang tidak menerapkan apa yang diturunkan Allah ini sudah terkategori orang-orang yang zalim," pungkasnya. [] Alfia Purwanti

0 Komentar