Kerapuhan Mental Anak Buah dari Sistem Pendidikan Sekuler

MutiaraUmat.com -- Bunuh diri, adalah fenomena yang menjadi tren akhir-akhir ini, fenomena tersebut menjangkit baik dari kalangan dewasa maupun anak-anak dibawah umur. Tahun ini, Polri mencatat terdapat 1152 kasus bunuh diri yang telah terjadi  pada periode Januari-awal Desember 2023. Kasus ini merupakan kasus dengan peringkat 3 tertinggi yang terjadi di Indonesia setelah kasus kebakaran (3663 kasus) dan penemuan mayat (3618 kasus) pada periode yang sama. Setelah dilakukan penyelidikan, umumnya bunuh diri dilatar belakangi oleh depresi, pembulian, dan masalah ekonomi.

Mirisnya, dari ribuan kasus bunuh diri tersebut tercatat sebanyak 20 kasus yang dilakukan oleh anak-anak dibawah umur. Penyebabnya umumnya adalah pembulian dan perundingan yang terjadi di sekolah-sekolah tempat anak belajar maupun di lingkungan sekitarnya. Namun, baru-baru ini telah terjadi kasus bunuh diri yang mana dilakukan oleh seorang anak laki-laki asal Pekalongan dengan cara gantung diri di kamarnya, diduga perilaku tersebut disebabkan oleh sikap tidak terima karena HP nya disita oleh orang tuanya. (usiknas.polri.go.id)

Fenomena bunuh diri ini tentu tidak dapat dibiarkan begitu saja, perlu adanya pemikiran mendasar tentang akar permasalahan yang menyebabkan perilaku tersebut sehingga menghasilkan solusi yang tepat, jangan hanya menghadirkan solusi remeh yang tidak mampu menumpas akar permasalahannya. Bak gulma yang hanya ditumpas ujung batangnya saja, maka ia akan tetap tumbuh lebih besar bahkan melebar hingga mematikan induknya. 

Bunuh diri disebabkan oleh depresi. Penyebab depresi sendiri di dunia ini hampir sama seperti kesenjangan ekonomi, kompetensi kerja, bullying, hingga permasalahan lain yang dianggap sangat besar bagi pemiliknya. Permasalahan-permasalahan yang menyebabkan depresi tersebut tak lain juga dilatarbelakangi oleh sesuatu. Kesenjangan ekonomi misalnya, di Indonesia banyak pengangguran yang dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Sumber daya alam yang melimpah tak menjadikan rakyatnya makmur, namun menjadikannya budak di negara sendiri. Negara memilih berinvestasi demi kepentingan orang-orang pemegang kekuasaan.

Kurangnya penghargaan terhadap pekerja juga menjadi salah satu permasalahan, dikatakan bahwa pekerja Indonesia memiliki kualitas yang rendah dan tidak profesional. Namun, jika memang benar kualitas manusianya yang kurang baik, negara seharusnya totalitas memperbaiki pendidikan di Indonesia, bukan sebaliknya mendatangkan pekerja dari negara lain yang dinilai lebih profesional. Oleh karenanya, bisa dikatakan jika memang kemiskinan di Indonesia merupakan kemiskinan yang struktural.

Selanjutnya kasus bunuh diri yang terjadi di kalangan anak-anak, hal ini menjadi hal khusus yang perlu dibahas. Perundungan yang terjadi sekarang ini tak lain juga memiliki sebab. Anak-anak adalah kanvas putih yang akan diwarnai oleh orang-orang disekitarnya terutama orang tuanya. Madrasah pertama anak-anak adalah orang tua, jika orang tua tak mampu untuk mendidik anak-anaknya maka akan terjadi hal-hal seperti perundingan ini. Sementara, kebanyakan orang tua zaman sekarang lebih memilih sibuk berkarir daripada mendidik anaknya sendiri. Mereka termakan ideologi kapitalis-sekuler yang lebih mementingkan materi melebihi apapun. 

Media sosial juga mengambil peran dalam kasus ini, telah menjadi pengetahuan bersama bahwa konten-konten yang disajikan oleh platform-platform media sosial sekarang ini adalah konten-konten yang tidak mendidik dan mengarah pada hal-hal yang negatif. Hanya dengan membuat peraturan perundang-undangan saja tidak akan mampu untuk menghentikan arus informasi negatif ini. Seorang anak kecil tidak akan pernah tau peraturan telah dituliskan tersebut. Media sosial juga menyediakan banyak sekali konten yang dapat menjadi ide kriminalitas, seperti adanya drama-drama yang mengandung konten-konten tersebut maupun video-video lain yang mengandung isi yang sama. Pengetahuan mengenai cara-cara untuk melakukan bunuh diri pun tak lain juga didapatkan dari hal-hal yang ia saksikan dari media sosialnya. 

Dari hasil observasi tersebut ditemukan bahwasanya negara juga memiliki peran dalam meningkatkan kasus bunuh diri ini. Sehingga boleh dikatakan, awal mula terjadi kerusakan dan kemunduran di generasi sekarang adalah ketidakmampuan negara mengurus permasalahan rakyatnya dan kegagalan orang tua dan lingkungan sekitar dalam mendidik generasi selanjutnya menjadi generasi yang lebih baik dari generasi mereka sendiri. Jika ditelaah lebih lanjut, semua permasalahan tersebut didasari oleh pemikiran atau ideologi yang diampu oleh masyarakat zaman sekarang ini, karena tanpa adanya pemikiran, masyarakat tidak akan bertindak. Pemikiran adalah inti dari semua perbuatan.

Lalu bagaimana solusi yang seharusnya diterapkan? Bagaimana cara memperbaiki keadaan zaman yang telah rusak ini? Mungkin para ahli telah banyak menyampaikan pendapatnya akan solusinya untuk permasalahan ini. Namun, hal tersebut tetap tidak menyentuh akar permasalahannya. Sedangkan Islam, agama satu ini memiliki solusi yang telah lama terpendam karena dianggap tidak toleransi dan tidak cocok digunakan karena beragamnya kultur budaya dan agama di bumi ini. 

Sejak beribu-ribu tahun yang lalu, Islam telah mencetak manusia-manusia mulia yang tercatat secara nyata sejarah kehebatannya. Tidak seperti spiderman, superman, ataupun para pahlawan marvel yang hanya memiliki kehebatan fiktif, orang-orang yang dilahirkan Islam memiliki kehebatan yang benar-benar nyata terjadi bahkan masih meninggalkan bukti. Islam melahirkan pemuda yang mampu menaklukan konstantinopel di umurnya yang masih berkepala dua, Islam mampu melahirkan seorang wanita yang mampu mendirikan universitas pertama di dunia. Islam mampu melahirkan penyair hebat, ilmuwan hebat, pemikir ulung, bahkan matematikawan terkemuka yang pemikirannya masih digunakan sampai sekarang ini, serta masih banyak lagi orang-orang hebat yang dilahirkan karena didikan Islam. 

Islam memiliki pandangan lain terkait pendidikan yang dilakukan di zaman ini. Pendidikan dalam islam diawali dengan penguatan pondasi keimanan, dimana anak akan di didik mengenal Tuhan dan memiliki kepribadian Islam yang berakhlakul karimah, mereka akan dididik oleh masyarakat dan lingkungan sekitar ataupun sekolah yang telah menerapkan sistem yang diharapkan. Islam tidak tergesa-gesa menjajalkan pengetahuan sains kepada anak-anak yang masih belia, kesadaran untuk mengetahui dunia sains akan muncul seiring berkembangnya akal dan perjalanannya menemukan Tuhannya. 

Kuatnya pondasi keimanan atau akidah seseorang akan berdampak pada pedoman hidup seorang individu tersebut. Bagaimana dirinya menetapkan yang baik dan buruk, yang boleh dilakukan maupun tidak boleh dilakukan. Hal ini akan menjadi dasar pokok dalam membangun lingkungan generasi yang hebat layaknya generasi Muhammad Al-Fatih dan generasi-generasi saat Rasulullah masih ada. Namun, masih ada satu PR sebelum sistem pendidikan Islam tersebut diterapkan, yaitu mengganti sistem yang telah rusak ini menjadi sistem yang menerapkan syariat-syariat Islam atau sistem Khilafah.

Upaya yang hanya dilakukan setengah-setengah dan tidak menyeluruh akan berakhir sia-sia karena rapuhnya pondasi yang mendirikannya. Oleh sebab itu, dengan menerapkan secara menyeluruh sistem-sistem Islam akan mendapatkan hasil yang optimal. Kita tidak perlu menjadi seorang alim untuk berjuang mengupayakan sistem Islam, kita hanya perlu sadar bahwa dunia tempat berpijak ini tidak akan mampu membuat manusia menjadi sejahtera dan hidup dalam ketenangan. Bukankah belum ada bukti real terkait keberhasilan sistem kapitalis, sekuler, dan komunis? Sedang sistem Islam telah memberikan bukti nyata kejayaannya menghidupi manusia secara adil dan sejahtera.

Akankah hidup dalam bayangan sistem kapitalis-sekuler ini tidak membuatmu tergerak untuk mencari tahu kebenarannya? Akankah sistem yang diterapkan sekarang ini akan menjamin hidup kita sejahtera dan aman dalam beberapa tahun kedepan? Kasus-kasus yang terjadi sekarang ini telah menjadi bukti gagalnya sebuah sistem yang menatanya. Jadi, bersegeralah untuk mencari tahu kebenaran dari sistem Islam.

Oleh: Faatihah
Aktivis Muslimah

0 Comments