KDRT Terus Terjadi, Islam Solusi Hakiki


MutiaraUmat.com -- Tragis, kasus KDRT kembali terjadi. Seorang istri,
 Meli Safitri (18) di Baubau, Sulawesi Tenggara  tewas usai dianiaya suaminya, LN (17) di rumah mertua. Hasil autopsi terhadap jasad korban, Meli meninggal akibat ada tulang patah pada leher (www.detik.com, 14/12/2023). Di Bekasi, Jawa Barat, seorang pria berinisial YH (36) tega menganiaya istrinya R (35) secara sadis menggunakan senjata tajam jenis golok 
(megapolitan.okezone.com, 14/12/2023).

Kasus KDRT seolah tak pernah habis menghiasi media. Kasus ini menambah daftar panjang kasus sebelumnya. Maraknya KDRT tentu harus mendapat perhatian serius.

Sistem Sekuler Akar Masalah

Meski Pemerintah sudah membuat UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT sebagai upaya mengatasi maraknya kasus ini. Toh KDRT terus terjadi, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat Januari -14 September 2023 ada  111,324 kasus KDRT (tirto.id, 14/9/3023).

Menurut Evi Tri Jayanthi (Lembaga Sahabat Perempuan Magelang)  penyebab utama KDRT karena perselingkuhan, faktor ekonomi dan budaya patriarki (www.liputan6.com,  4/7/2023).

Regulasi yang dikeluarkan Pemerintah tidak menyentuh akar masalah. KDRT yang kian marak buah sistem sekuler kapitalis yang diterapkan hari ini. Sistem yang menjunjung tinggi kebebasan berperilaku. Laki-laki dan perempuan bergaul bebas tanpa batas hingga membangkitkan syahwat.

Perselingkuhan dan perzinaan lumrah terjadi karena kontrol individu yang lemah. Kondisi ini diperparah dengan adanya medsos tanpa batasan. Sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan  menghasilkan individu yang siap kerja namun miskin keperibadian.

Masyarakat kapitalis bersifat individualis, masyarakat yang cuek dengan apa yang terjadi dilingkungannya. Masyarakat kehilangan fungsi kontrol untuk beramar makruf nahi munkar.

Sistem ekonomi kapitalis meniscayakan kekayaan hanya berada ditangan segelintir pemilik modal. Negara berfungsi sebagai regulator dan fasilitator, abai mengurusi kebutuhan rakyat. Rakyat sulit memenuhi kebutuhan pokok individu maupun massal.

Islam Alternatif Solusi

Islam mabda shahih yang diturunkan Allah untuk pemecah problematika kehidupan. Maraknya KDRT, penyebab utamanya karena perselingkuhan dan faktor ekonomi. Untuk mencegah perselingkuhan, Islam punya sistem pergaulan Islam. Kehidupan lelaki dan perempuan terpisah, boleh bertemu bila ada hajat syar'i seperti di pasar, berobat.

Islam melarang mendekati zina dan menutup semua celah pintu perzinaan seperti larangan  ihtilat, berkhalwat, tabarruj dan keharusan wanita menggunakan jilbab dan khimar ketika keluar rumah serta keharusan menundukkan pandangan. Bila ada yang melanggar Islam punya sistem sanksi yang tegas.

Islam mengatur hubungan laki-laki dan perempuan dalam ikatan pernikahan, agar terwujud ketenangan. Allah berfirman dalam surat Ar-rum: 21 yang artinya,

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram padanya dan  menjadikan diantaramu rasa kasih sayang. Sungguh,  yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." 

Dalam keluarga, Islam menentukan hak dan kewajiban masing-masing suami istri. Suami sebagai kepala keluarga berkewajiban mendidik istri dan  mencari nafkah. Istri berperan sebagai ummu warabatul bait. Tugas utamanya mendidik anak dan pengelola rumah tangga. Seorang suami wajib berbuat makruf terhadap istri, sebaliknya istri menghormati suami.

Masyarakat Islam memiliki kepekaan beramar makruf nahi munkar, peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya. Negara sebagai pelayan rakyat berkewajiban memenuhi kebutuhan pokok rakyat baik individu maupun komunal.

Negara juga menyelenggarakan pendidikan berasas akidah Islam untuk membentuk individu bertakwa yang menyesuaikan setiap perbuatannya dengan hukum syarak 

Dengan penjagaan tersebut maka tindak KDRT bisa dicegah. Hal itu terwujud ketika negara menerapkan Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.[]

Oleh: Ida Nurhayati
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar