Jangan Jadikan Politik Gemoy Menjadi Bahan Manipulasi


MutiaraUmat.com -- Cendekiawan Muslim Ustaz H.M Ismail Yusanto menilai bahwa jangan jadikan politik gemoy (riang gembira) menjadi bahan manipulasi

“Politik riang gembira atau Gemoy tidak ada masalah, tetapi jangan itu kemudian menjadi bahan manipulasi untuk menutupi kebutuhan keseriusan yang itu memerlukan kapabilitas,” ujarnya di acara Fokus to the Point: Politik, Gemoy atau Serius? di kanal YouTube UIY Official, Senin (18/12/2023).

Menurut Ustaz Ismail, istilah politik gemoy atau politik santun, tidak bisa dilepaskan dari dinamika yang mengiringnya sejak beberapa waktu terakhir, khususnya setelah keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memberi jalan mulus bagi Gibran untuk menjadi cawapres, kemudian adiknya Kaesang yang baru tiga hari menjadi anggota partai lantas menjadi ketua umum.

Menurutnya, situasi seperti ini yang coba dimanipulasi dengan narasi-narasi yang seirama dengan kondisi faktual dari kakak adik itu. Ia menilai masyarakat sudah bisa menilai secara langsung bagaimana kualitas atau kemampuan kapabilitas yang bersangkutan itu didalam membaca menganalisis lalu memberikan narasi politik secara serius.

“Memang ujungnya adalah populisme dalam arti bagaimana seseorang politikus itu mendapatkan dukungan dan dukungan itu ya dukungan artinya dia bisa benar bisa salah, dia bisa baik bisa buruk, dia bisa pintar, bisa bodoh yang penting dapat dukungan,” ujarnya.

“Jadi saya kira jawaban konkretnya itu mestinya begini, anda senang, anda ajak orang gembira, tapi tunjukkan kemampuan anda, gimana cara menunjukkannya? setiap kali diundang debat datang dan berikan jawaban. Nah ini kan tidak, ketika itu tidak, maka orang akan melihat bahwa politik gemoy ini hanya sebagai langkah manipulatif,” tambahnya.

Selain itu menurut Ustaz Ismail, apatisme publik itu sangat berbahaya, karena publik hanya dijadikan sebagai alat legitimasi dan makin mudah dijadikan sebagai alat legitimasi untuk kekuasaan yang zalim yang digunakan semena-mena seperti ini hari.

Ia menjelaskan, bagaimana Mahkamah Konstitusi (MK) bisa diperlakukan untuk kepentingan politik keluarga dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang semestinya menjadi garda terdepan bagi pemberantasan korupsi, malah menjadi bagian dari persoalan korupsi itu sendiri.

Ia menambahkan, DPR yang semestinya dianggap sebagai wakil rakyat yang mengedepankan aspirasi rakyat, malah justru menjadi bagian dari legitimasi untuk kepentingan bukan rakyat tapi kepentingan penguasa. Menurutnya, kalau itu terjadi, maka negara akan terpuruk kepada jurang kemunduran bahkan mungkin kehancuran

“Bagaimana kita memahapi politik itu, kalau politik ini hari dipahami sekedar the of getting power, seni untu mendapatkan kekuasaan, ya seperti inilah. Jadi kalau harus nari, nari dia bahkan kalau harus guling-guling yang penting dapat kekuasaan,” ujarnya.

“Karenanya maka meskipun harus berpasangan dengan anak ingusan sekalipun, ya tidak apa-apa juga yang penting dapat kekuasaan,” tambahnya.

Oleh karena itu menurut Ustaz Ismail, bahwa politik itu sesungguhnya sangat serius, kalau mengacu kepada pengertian yang masyur, politik itu diartikan sebagai riayah suunil umat, bagaimana mengatur kehidupan umat, kehidupan masyarakat, kehidupan rakyat. Menurutnya itu dibutuhkan keseriusan dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial budaya, politiknya itu diatur sedemikian.

Sehingga menurutnya, bisa mewujudkan seluruh kebutuhan-kebutuhan asasi seperti sandang, papan, pangan, kebutuhan pendidikan. Sehingga masyarakat bisa maju menuju kepada peradaban yang agung sangat serius.

“Kalau sangat serius mestinya juga dihadapi dengan serius lalu dicapai dengan serius lalu ditangani secara serius oleh orang-orang yang serius. Apalagi dalam Islam itu semua adalah amal shaleh ibadah yang dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah swt,” tutupnya. [] Aslan La Asamu

0 Komentar