Lensa Paling Tajam Melihat Masalah Palestina Adalah Akidah, Tauhid, dan Ukhuwah Islamiah


MutiaraUmat.com -- Founder Intitute Muslimah Negarawan, Dr. Fika Komara mengatakan, sesungguhnya lensa yang paling tajam untuk melihat masalah Palestine itu adalah lensa aqidah Islam, tauhid, dan ukhuwah islamiyah.

“Alasan utama kita membela genocide Gaza bukan karena kemanusiaan semata. Tidak cukup, utuh, dan mengkristal jika kita hanya melihatnya dari sisi kemanusiaan. Masalahnya tidak akan pernah selesai, karena tidak menyentuh akar masalah dari Palestina dan Baitul Maqdis,” ungkapnya dalam Live Streaming: Genosida Gaza: Pelajaran soal Nasionalisme dan Penjagaan Perbatasan, pada Selasa (31/10/2023) dalam Kanal YouTube Institut Muslimah Negarawan.

Dalam Al-Qur'an juga mengatakan: Innamal muslimina ikhwah, “Sesungguhnya kaum muslimin itu bersaudara,” harus lebih kuat bondingnya. Antara bonding Islam, kesukuan, dengan kebangsaan, paham nasionalisme dalam konteks ini secara mendasar, itu bukan berarti islam tidak mengakui perbedaan, seperti dalam Qur'an surat Al-Hujuraat ayat 13, pengakuan itu tidak menjadi bonding, dasar dan fondasi. Pengakuan ada, boleh diberi ruang karena kita memang berbeda, perbedaan itu bagian dari sunatullah. Berbeda warna kulit, kebangsaan, benua, pulau, kehidupan alami seperti itu diakui oleh Islam, papar Fika.

Pluralitas itu diakui, namun jika dijadikan dasar atau fondasi, ini yang bermasalah. Paradigmanya begitu, jadi sebenarnya borderless itu adalah karakter ukhuwah Islam, ungkapnya.

Profesor dari UIN, pakar etnolinguistic dan geopolitik pernah mengatakan, nasionalisme sebenarnya engga pernah ada dalam peradaban islam, kita selalu bersatu, meskipun namanya peradaban ada naik turun. Ada masa kejayaan, ada masa kelemahan. Tetapi umat islam terbiasa dengan entitas yang menyatu sebenarnya tidak terkapling-kapling, jelasnya.

Fika mengatakan, ada border, ada pemerintahan, hukum, dan kebijakan yang berbeda. Tentu tidak menjadi kealamian dalam dunia islam, dan terjadi arus abad 20 ini sudah dirancang sejak abad 19 jadi perencanaannya sudah abad 19. Tapi eksekusinya, kemerdekaan itu pertengahan atau awal abad 20. 

Kemudian, lanjut Fika, zionisme itu ditanam, perpaduan di tengah-tengah, ibarat arusnya dipupuk dengan perpecahan, zionis di insert kanker. Ibarat tubuh sudah dibuat lemas, anggota tubuh lemah, lalu disuntik dimasukkan kanker ke dalam jantung peradaban Islam di Syam. Akhirnya memang luar biasa, tragedi besar pada masa itu dan terbesar sampai hari ini. Sudah 80 tahun, lebih 75 tahun, ini yang terjadi.

Para ulama mengatakan, sebenarnya masalah Filistine, qodhiyah Filistine wa qodhiyah wujud. Ini adalah persoalan keberadaan si penjajah yang menyerobot. Bukan masalah perbatasan, jadi solusi dua negara itu bukan solusi. Bukan bagi-bagi kavling, bukan. Persoalannya bukan hudud, tapi eksistensi israhell itu sendiri. Bukan masalah tapal batas, tetapi akidah, papar Fika.

Persoalan tanah almuqoddas atau tanah selingkar, itu salah satu cara pandang yang menurut saya harus difahami oleh semua. Terutama bagi yang melihat masalah Palestina ini (satu) sekedar rebutan wilayah, itu yang paling awam, (kedua) masalah kemanusiaan, ujar Fika.

Persoalan Palestina adalah masalah penjajahan. Wujud adanya eksistensi penjajah di tanah itu. Kanker yang ditanam, itu harus dicabut. Dalam islam kalau kita berbicara hudud sekalipun, berbicara dicaploknya tanah di daerah-daerah apalagi Syam itu, memang dikenal sebagai daerah subur, ribath, perbatasan, ungkap Fika.

Maka, Fika menjelaskan, selain tanah atau Al Ardhu Muqaddas, Syam atau Baitul Maqdis dikenal sebagai tanah ribath (Gaza dan sekitarnya). Ribath ini sebenarnya syariah islam. Tentang perbatasan dan penjagaan, terutama yang berbatasan. Memang Palestina bukan soal perbatasan, tetapi penjajahan. 

Bukan lagi berbatasan, tapi Syam adalah kawasan pergesekan. Selain banyak sekali nash-nash hadits maupun AQuran yang menyebutkan keberkahan Baitul Maqdis. Juga secara realitas geopolitik, Syam memang kawasan pergesekan dengan peradaban Kristen Byzantium Romawi Timur, maka ada Turki itu, pungkasnya.[]Tari Handrianingsih

0 Komentar