Borderless Sebatas Slogan, karena Ketika Bicara Islam Tidak Berlaku


MutiaraUmat.com -- Founder Institut Muslimah Negarawan, Dr. Fika Komara mengatakan ketika berbicara Islam selalu menghadirkan pagar-pagar dan batas-batas. Sekat itu kembali hadir when it faces to Islam. Termasuk ketika isu Gaza, banyak negeri Muslim akhirnya banyak pertimbangan baik itu kepentingan nasional atau mungkin takut dengan kekuatan yang lebih besar. Padahal mereka punya Allah yang Maha Besar.

“Kita hidup di era borderless tetapi kini dengan genosida Gaza, batas-batas itu kembali hadir. Seolah-olah lumpuh slogan-slogan borderless dan globalisasi. Yang masih berfungsi adalah di level umat yang masih punya nurani, kesadaran, dan iman, itu yang lebih responsif di level non state actor. Kalau bahasa Hubungan Internasional, pendekatan kacamata kita melihat hari ini, seperti Hammas, brigade Izzudin Al Qassam sebenarnya mereka non state actor, tetapi merekalah yang masih punya action,” ungkap Fika Komara dalam Live Streaming bertajuk Genosida Gaza: Pelajaran soal Nasionalisme dan Penjagaan Perbatasan, pada Selasa (31/10/2023) di Kanal YouTube Institut Muslimah Negarawan.

Jadi ketika berbicara masalah Islam dan kaum muslimin seperti misalkan ancaman transnasionalism, khilafah dan apapun, kita hidup di era borderless, Setelah tembok Berlin runtuh tahun 80an akhir, itu awal 90an saat perang dingin berakhir, kita memasuki era borderless atau globalisasi, ungkapnya.

Gerakan-gerakan dakwah, atau komunitas-komunitas hijrah yang merespon dengan berani isu Gaza ini, adalah non state actor. Tetapi kemana aktor-aktor negara itu, mereka terbelenggu dengan batas-batas dan tersekat-sekat dengan bendera-bendera negaranya, tambahnya.

Bagaimana ternyata bendera Palestina dan Arab itu di desain orang Barat, kolonial untuk mendukung revolusi Arab tahun 48. Jadi memang betul krisis Gaza sebenarnya sudah dimulai storyboard nya. Kalau buat film itu storyboard atau scriptnya sudah dimulai bahkan sejak abad 19, bukan tanggal 7 Oktober. Awal abad 20 dieksekusi, tahun 48 perencanaannya. Planning sudah sejak akhir abad 19 yaitu tahun 1800an. Tetapi eksekusi memang di pertengahan atau awal 1900an karena didahului keruntuhan khilafah Utsmani, yang terseret perang dunia I, paparnya.

Fika menjelaskan, poin penting yang bisa kita ambil terkait sejarah zionisme kemudian dari sisi lokal aksi circle of barokah (lingkaran keberkahan) Baitul Maqdis yang saya pikir disitu sebenarnya mengilustrasikan sebuah simbol bahwa bagi seorang Muslim, pengetahuan tentang tanah suci (harom) dari perspektif, akidah, dan syariah islam itu penting sekali. 

Karena kalau tidak, maka akan diisi perspektif akidah lain utamanya perspektif barat. Penting sekali anak-anak muda termasuk melihat peta juga dari sudut pandang yang benar. Dan sumber utama kita sebagai Muslim harus dari Al-Qur'an dan Sunnah, pungkasnya.[]Tari Handrianingsih

0 Comments