Kegagalan Mitigasi Bencana Karhutla


MutiaraUmat.com -- Belum selesai masalah Karhutla di Kalimantan, Riau, sekarang kembali terjadi kebakaran hutan di Kabupaten Lumajang. Dikutip dari liputan6.com (29/08/2026), kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Lumajang, kian meluas. Hingga Sabtu (29/8/2026), tim gabungan masih melancarkan operasi besar-besaran untuk menjinakkan si jago merah yang telah menghanguskan sekitar 160 hektare lahan vegetasi kering.

Banyaknya kawasan hutan di negeri kita patut diperhatikan dengan sangat. Apalagi fungsi daripada hutan sangatlah krusial bagi umat manusia bahkan kehidupan hewan bergantung pada hutan. Kandungan manfaat hutan lebih tinggi dibandingkan jika dirusak dan dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit, seperti yang terjadi di Kalimantan. Setelah selesai kebakaran terjadi pada lahan hutan. Tak lama, muncul bibit sawit yamg disebar oleh oknum tertentu. 

Sungguh sangat mengiris hati, setega itu mereka membakar hutan. Merusak pernafasan masyarakat sekitar dengan asap yang ditimbulkannya, bahkan asap sampai ke negeri tetangga. Setelah itu tertangkap kamera dengan kemunculan benih-benih sawit baru. Ternyata cuaca kemarau tidak menjadi faktor utama penyebab kebakaran. Tetapi ulah oknum pengusaha nakal.

Pada kasus kebakaran yang sudah menjadi langganan ini ternyata ada satu kebijakan gagal yang patut dicermati yaitu gagalnya menyiapkan mitigasi bencana di negeri kita. Khususnya kasus karhutla ini. Mirisnya mitigasi bencana yang terjadi akibat banjir bandang di Sumatera belum kelar hingga saat ini. Berlanjut dengan kegagalan mitigasi bencana karhutla.

Sebagai sebuah negara yang baru merayakan kemerdekaannya ke-81, sungguh sangat disayangkan. Harusnya semakin bertambah usia, semakin dewasa dan bijak dalam menyelesaikan masalah. Tetapi fakta berkata lain. Semakin bertambah usia, kita menjadi negara yang terbelakang dalam hal teknologi antisipasi dan penanggulangan bencana. Padahal sudah berkali-kali kita mengalami bencana serupa. 

Seperti contoh, penanganan api yang melalap hutan di berbagai wilayah, harusnya alat canggih seperti pesawat yang membawa muatan air sudah dimiliki dengan jumlah maksimal, disesuaikan dengan luasnya hutan yang ada. Tetapi kita tetap menghadapi api dengan manual lewat daratan. Ini membuktikan bahwa kita gagal. 

Padahal Allah SWT telah memberikan modal akal untuk berpikir, tetapi tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Bahkan sebelum karhutla. Pelajaran harusnya didapatkan dari bencana di Sumatra. Akibat penggundulan hutan dengan mengalihfungsikan sebagian besar kawasan hutan yang dilindungi, akhirnya mengakibatkan bencana banjir dahsyat. Malah kini terulang lagi. Apakah kita ingin bencana besar datang kembali. Ibarat kata pepatah, janganlah masuk ke dalam lubang yang sama. Malah ini dilakukan kesalahan serupa. 

Semua ini akibat penerapan sistem sekuler. Peran agama hanya cukup di mesjid saja. Padahal islam memiliki seperangkat hukum yang mampu menjadi basis aturan yang adil bagi kehidupan manusia. Manusia hanya memikirkan untung banyak dan bertambah kaya. Bukan memikirkan apakah ini halal atau haram. 

Penguasa harusnya menjaga keselamatan dan kesehatan warganya. Apalagi bahaya asap sudah sampai satu provinsi. Banyak mengidap penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Bahkan dampak kedepannya lebih tidak terbayangkan lagi. Seperti banjir bandang, pemanasan global, hilangnya sumber pencarian masyarakat, punahnya hewan, dan kerusakan lingkungan. 

Islam melarang merusak hutan. Apalagi terus mengeksploitasi hutan demi kepentingan pengusaha. Karena fungsi penguasa dalam islam adalah ra'in atau pelindung. Bukan memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri dan para pengusaha. Kalaupun rakyat ada yang ingin memanfaatkan hutan. Tidak boleh sampai merusak hutan seperti dibakar dan menimbulkan asap yang sangat merugikan atau dieksploitasi besar-besaran untuk kepentingan bisnis. Karena ada kehidupan yang harus dijaga yaitu hewan dan manusia di muka bumi. 

Begitu pula penguasa dalam islam harus menyiapkan mitigasi bencana dengan efektif. Seperti menyiapkan peralatan canggih untuk memadamkan api. Cepat tanggap dalam memulihkan bencana. Karena penguasa adalah pelayan umat bukan pencari keuntungan. Segala kebijakan harus sesuai dengan hukum syarak. Jika tidak, maka penguasa bisa diberhentikan. 

Oleh karena itu, ketika islam tidak diterapkan. Sebenarnya kita telah menganiaya diri kita sendiri. Karena hanya dengan penerapan islam, keadilan bagi manusia dan seluruh alam akan terwujud. Islam tidak akan menzalimi siapapun. Bahkan hewanpun dilindungi dalam islam. Bahkan ketika dalam kondisi perang sekalipun, ada larangan merusak tanaman, membuhuh hewan, membunuh anak dan wanita. Alangkah adilnya islam. Alampun terjaga ketika islam bisa kembali mengatur umat manusia. Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Eni Yulika, S.Pd.
Aktivis Muslimah

0 Komentar