Gen Z Terimpit: Ekonomi Tertekan, Hedonisme Mencengkeram, dan Krisis Tujuan Hidup
MutiaraUmat.com -- Generasi Zilenial atau yang lebih dikenal sebagai Gen Z merupakan generasi yang lahir dalam rentang tahun 1997 hingga 2012. Mereka tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan internet yang memudahkan akses informasi, komunikasi, hingga pemenuhan kebutuhan. Namun, kemudahan tersebut tidak serta-merta membuat kehidupan mereka lebih mudah. Di balik itu, Gen Z menghadapi tekanan ekonomi yang semakin nyata. Survei Deloitte 2026 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan 55% responden Gen Z menunda keputusan penting seperti menikah, memiliki anak, memulai atau melanjutkan pendidikan karena persoalan keuangan. Kompas.com (17/05/2026).
Di tengah tekanan ekonomi, muncul kecenderungan yang tampak bertolak belakang. Menurut survei YouthLab terhadap 553 anak muda Indonesia menemukan bahwa kelompok usia 15–24 tahun mengalokasikan lebih dari separuh pendapatannya untuk memenuhi keinginan. youthlab.id, (21/06/2024). Pola konsumsi impulsif, keinginan mengikuti tren, FOMO (fear of missing out), dan pengaruh media sosial mendorong sebagian anak muda membelanjakan uang bukan sekadar untuk kebutuhan, tetapi juga demi kepuasan emosional.
Persoalan ekonomi Gen Z tidak dapat dilepaskan dari sistem kapitalisme yang menjadi fondasi perekonomian di banyak negara, termasuk Indonesia. Kapitalisme bertumpu pada sekularisme, memberikan kebebasan kepemilikan, dan berorientasi pada keuntungan material bagi para pemodal semata. Akibatnya, negara hanya berperan sebagai regulator, sementara pemenuhan kebutuhan masyarakat bergantung pada kemampuan individu.
Tekanan tersebut diperparah gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan kebebasan individu di atas peran agama dalam mengatur kehidupan, sehingga agama menjadi bagian terpisah dari kehidupan sosial masyarakat. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, generasi muda menghadapi persoalan berlapis: tekanan ekonomi, tuntutan sosial, budaya konsumtif, hingga krisis makna dan kehilangan orientasi tentang tujuan hidup.
Dalam perspektif Islam, generasi muda merupakan bagian penting yang harus mendapat perhatian serius. Mereka berada pada fase produktif dan memiliki potensi besar bagi masyarakat. Sejarah Islam menunjukkan besarnya peran pemuda dalam dakwah Rasulullah Saw., Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqash, Ja'far bin Abi Thalib, dan Mush'ab bin Umair menerima Islam ketika masih muda. Mereka bukan sekadar pengikut, tetapi berani memikul tanggung jawab, berdakwah, dan berkontribusi dalam membangun masyarakat Islam. Ini menunjukkan bahwa Islam memandang pemuda sebagai aset penting yang harus dibina dengan akidah, ilmu, dan kepribadian Islam.
Dalam konsep Negara Khilafah sebagai sistem pemerintahan warisan Rasulullah, negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan dasar rakyat serta mengelola sumber daya alam untuk kemaslahatan masyarakat, mengharamkan segala bentuk pajak yang membebani rakyat, dan negara juga berkewajiban menciptakan lapangan pekerjaan yang layak bagi laki-laki yang mampu bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Dengan demikian, kesejahteraan tidak semata-mata dibebankan kepada individu, tetapi menjadi tanggung jawab negara.
Selain itu, jaminan kesejahteraan tersebut juga harus berjalan beriringan dengan pembentukan lingkungan sosial yang sehat. Media diarahkan menjadi sarana edukasi, informasi, dan peningkatan ketakwaan, bukan sarana penyebaran konten yang merusak akidah dan akhlak. Selain itu, lebih mendasar lagi, Islam membangun paradigma tentang hakikat kehidupan: dari mana manusia berasal, untuk apa diciptakan, dan ke mana setelah kehidupan dunia ini berakhir. Hingga pada akhirnya generasi muda ini memahami hakikat kehidupan sebagaimana firman Allah Swt., dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Dengan demikian, kehidupan dunia tidak dipandang semata-mata untuk mengejar kekayaan, kesenangan, popularitas atau pencapaian individual, tetapi sebagai sarana menjalankan amanah, menanam benih amal dan beribadah kepada Allah Swt.
Dari paradigma tersebut lahirlah generasi yang tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan ekonomi maupun arus gaya hidup. Mereka tetap berusaha memperoleh kehidupan yang layak, tetapi tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan. Dengan ilmu, ketakwaan, dan visi yang kuat, generasi muda dapat menjadi generasi produktif, bertanggung jawab, dan berkontribusi dalam membangun peradaban Islam.
Dengan demikian, problem Gen Z bukan sekadar persoalan kemampuan mengatur keuangan atau mengikuti tren, tetapi juga persoalan sistem dan paradigma. Ketika negara tidak optimal menjamin kesejahteraan dan sekularisme menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya, generasi muda rentan mengalami tekanan ekonomi sekaligus krisis makna. Islam menawarkan solusi atas keduanya: negara menjamin kesejahteraan, sementara akidah Islam membangun orientasi hidup yang benar. Dengan begitu, Gen Z tidak hanya dipersiapkan untuk bertahan menghadapi kehidupan, tetapi juga menjadi generasi bertakwa yang memiliki visi besar dalam membangun peradaban Islam.
Nurlatipa R
Praktisi Pendidikan
0 Komentar